|
Judul: Nilai suatu penantian
Orang percaya harus memiliki keyakinan yang mantap tentang kepastian
kedatangan Yesus yang kedua kali. Keyakinan akan membuat orang
menantikan (ayat 12, 14). Kata menantikan bukan kata kerja pasif
melainkan aktif karena bermakna "menaruh pikiran dengan penuh
kerinduan".
Akan tetapi, fokus Petrus bukan hanya pada keyakinan tentang
kedatangan Yesus. Menurut Petrus, keyakinan harus diikuti sikap
hidup yang benar, sebab keyakinan akan pengajaran yang benar akan
mentransformasi hidup ke arah yang benar pula. Mengingat bahwa
semua orang akan menghadapi pengadilan Kristus (2Kor. 5:10),
orang percaya harus hidup kudus di hadapan Tuhan (ayat 14). Hidup
kita harus berbeda dari hidup para guru palsu yang kotor dan
penuh noda (2Ptr. 2:13). Meski bukan berarti kita tidak mungkin
jatuh ke dalam dosa lagi. Namun walaupun kita jatuh, ada
pendamaian dengan Tuhan karena jasa Kristus (ayat 14; Rm. 5:1-2).
Petrus juga mengingatkan kembali tentang kesabaran Tuhan yang memberi
kesempatan kepada manusia untuk bertobat sebelum kedatangan Yesus
(ayat 9, 15). Kesempatan ini harus direspons dengan semangat
penginjilan, yakni membawa sebanyak mungkin jiwa kepada Tuhan. Di
sisi lain, kepastian keselamatan di dalam Kristus tidak boleh
membuat orang percaya bersikap ceroboh dalam iman hingga terseret
ke dalam kesesatan. Kita memiliki tanggung jawab untuk tetap
berpegang teguh pada Kristus dan firman-Nya (ayat 17). Berpegang
teguh pada firman bukan hanya bermakna menaatinya, melainkan juga
tidak menafsirkan dan mengajarkan firman Tuhan secara sembarangan
(ayat 16). Keserampangan macam itu justru akan membuat iman
tersesat.
Iman yang dinyatakan melalui penantian dan kedatangan Kristus kedua
kali, seharusnya membuat kita tidak hidup seenak hati. Teruslah
bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Tuhan kita, Yesus
Kristus (ayat 18; 1 Ptr. 1:5-10). Milikilah kehidupan rohani yang
berkualitas, dan hasilkanlah buah-buah kebenaran dalam hidup
kita.
|