|
Judul: Awas: iri dan benci!
Apa yang menyebabkan rasa sayang Saul berubah menjadi benci, bahkan
ia berniat membunuh Daud? Semula Saul sangat terkesan pada Daud.
Tiga kali ia bertanya, anak siapa Daud itu (1Sam. 17:55-58). Dari
sumber yang benar didapat jawaban bahwa Daud memiliki latar
belakang yang baik. Ia anak Isai (1Sam. 17:58), keturunan Boas
dari Rut (1Taw. 2:12; Rut 4:18-22). Lalu Saul menerima Daud
sebagai tangan kanannya untuk berperang melawan musuh (1Sam.
18:5). Bahkan Yonatan, putra Saul, mengikat persahabatan dengan
Daud (1Sam. 18:1-4).
Namun ketertarikan Saul dan ketertarikan Yonatan kepada Daud berbeda.
Waktulah yang membuktikan. Saat ujian datang menggempur, Saul
limbung dan terhempas. Ketertarikan bergeser jadi kebencian. Apa
pemicunya? Sederhana! Tarian dan nyanyian! Untaian lagu yang
dilantunkan oleh rakyat Israel berisi syair yang lebih
meninggikan Daud (ayat 7). Tentu saja, telinga Raja Saul tidak
nyaman mendengarnya. Rasa iri menyelinap masuk dan berlabuh di
hatinya. Bagai dipupuk, iri hati semakin merasuk dan menusuk.
Rasa tertarik berubah jadi benci. Fokus Raja Saul sekarang hanya
satu, yaitu melenyapkan Daud (ayat 11-29). Mulailah ia menyusun
rencana dan langsung dilaksanakan, satu demi satu. Syukur kepada
Tuhan, tak satu pun yang berhasil. Semua gagal, karena Tuhan
menyertai Daud.
Betapa dahsyatnya dosa iri itu merusak relasi dan terutama diri
sendiri. Oleh karena iri hati, orang bersedia menghancurkan
sesamanya dengan cara apapun. Mulai dengan memfitnah sebagai
upaya pembunuhan karakter, sampai pada upaya menggeser kedudukan
dengan menggunakan pengaruh dan tekanan. Bahkan kalau perlu nyawa
dihabisi! Inilah akibat orang yang membiarkan diri dikendalikan
oleh ego. Iblis memanfaatkan rasa ego tersebut (1Sam. 18:10),
yang pada akhirnya membinasakan jiwanya sendiri. Karena itu,
berjagalah dan pelihara hati yang penuh kasih kepada sesama. Juga
puas dirilah dengan anugerah Tuhan atas kita.
|