Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 17:55-18:30
< Juli
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Rabu 2 Juli 2008

Judul: Awas: iri dan benci!
Apa yang menyebabkan rasa sayang Saul berubah menjadi benci, bahkan ia berniat membunuh Daud? Semula Saul sangat terkesan pada Daud. Tiga kali ia bertanya, anak siapa Daud itu (1Sam. 17:55-58). Dari sumber yang benar didapat jawaban bahwa Daud memiliki latar belakang yang baik. Ia anak Isai (1Sam. 17:58), keturunan Boas dari Rut (1Taw. 2:12; Rut 4:18-22). Lalu Saul menerima Daud sebagai tangan kanannya untuk berperang melawan musuh (1Sam. 18:5). Bahkan Yonatan, putra Saul, mengikat persahabatan dengan Daud (1Sam. 18:1-4).

Namun ketertarikan Saul dan ketertarikan Yonatan kepada Daud berbeda. Waktulah yang membuktikan. Saat ujian datang menggempur, Saul limbung dan terhempas. Ketertarikan bergeser jadi kebencian. Apa pemicunya? Sederhana! Tarian dan nyanyian! Untaian lagu yang dilantunkan oleh rakyat Israel berisi syair yang lebih meninggikan Daud (ayat 7). Tentu saja, telinga Raja Saul tidak nyaman mendengarnya. Rasa iri menyelinap masuk dan berlabuh di hatinya. Bagai dipupuk, iri hati semakin merasuk dan menusuk. Rasa tertarik berubah jadi benci. Fokus Raja Saul sekarang hanya satu, yaitu melenyapkan Daud (ayat 11-29). Mulailah ia menyusun rencana dan langsung dilaksanakan, satu demi satu. Syukur kepada Tuhan, tak satu pun yang berhasil. Semua gagal, karena Tuhan menyertai Daud.

Betapa dahsyatnya dosa iri itu merusak relasi dan terutama diri sendiri. Oleh karena iri hati, orang bersedia menghancurkan sesamanya dengan cara apapun. Mulai dengan memfitnah sebagai upaya pembunuhan karakter, sampai pada upaya menggeser kedudukan dengan menggunakan pengaruh dan tekanan. Bahkan kalau perlu nyawa dihabisi! Inilah akibat orang yang membiarkan diri dikendalikan oleh ego. Iblis memanfaatkan rasa ego tersebut (1Sam. 18:10), yang pada akhirnya membinasakan jiwanya sendiri. Karena itu, berjagalah dan pelihara hati yang penuh kasih kepada sesama. Juga puas dirilah dengan anugerah Tuhan atas kita.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini