Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 21:1-15
< Juli
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Minggu 6 Juli 2008

Judul: Ujian Iman
Menjadi buron dari kejaran aparat negara merupakan mimpi buruk. Apalagi kalau diri sebenarnya tidak bersalah, hanya kena fitnah keji. Itulah yang dialami Daud. Daud masuk daftar pencarian Raja Saul. Bila tertangkap, ia akan segera dieksekusi mati. Sebenarnya ia tidak bersalah, malah berjasa bagi bangsa dan negaranya. Rakyat berterima kasih dan memuji keberaniannya dalam perang. Penguasa negaralah yang tidak senang dengan kehadiran Daud.

Namun dalam pelariannya, Daud melakukan hal yang tidak terpuji. Dalam keadaan terpepet, ia menipu Imam Ahimelekh untuk mendapatkan makanan bagi dirinya dan para pengikutnya. Ia juga ingin mendapatkan pedang Goliat untuk keamanan dirinya. Ternyata perbuatan Daud itu dimata-matai Do‰g (ayat 7). Daud kemudian menyesali perbuatannya karena mengakibatkan Ahimelekh dan imam-imam lainnya dibantai (lihat 1Sam. 22:6-23). Ia juga terpaksa pura-pura gila agar jangan ditangkap musuh. Daud memang menghadapi pergumulan iman yang dahsyat, tetapi Tuhan izinkan hal itu terjadi. Mazmur 56 menggambarkan bahwa dalam pergumulan tersebut, Daud belajar mengarahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dari iman yang seolah sirna, Daud bangkit pada pengharapan bahwa Tuhan akan menolong dia keluar dari permasalahan itu.

Kita sendiri sebenarnya tidak lebih baik dari Daud. Saat-saat terpepet, kita pun kadang mengandalkan pikiran kita untuk menyelamatkan diri sendiri. Bisa dengan berbohong atau dengan cara dunia. Bisa saja Tuhan mengizinkan kita melakukan hal itu, tetapi bukan tanpa akibat. Bukankah kita sering menyesali perbuatan yang akibatnya tidak kita bayangkan sebelumnya. Namun bukan tidak mungkin hal itu akan menyadarkan kita bahwa tanpa bersandar penuh pada Tuhan, kita tak mungkin selamat. Saat itulah kita sadar bahwa itu adalah proses pembelajaran dari Tuhan. Persoalannya, maukah kita diajar oleh Tuhan? Maukah kita mengizinkan Dia membentuk hidup kita sepenuhnya?

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini