|
Judul: Doktrin salah, hidup salah
Doktrin yang salah akan menghasilkan kehidupan yang salah juga.
Inilah yang disorot Petrus dari kehidupan para guru palsu.
Pengajaran yang sesat akan terlihat dalam cara hidup yang sesat
(band. Mat. 7:15-20).
Ada dua ciri utama kehidupan para guru palsu. Pertama, hidup dalam
kesombongan atas kebenaran diri mereka. Mereka berani menghina
pemerintahan Allah (ayat 10a) dan tidak segan menghujat
kemuliaan/makhluk mulia (ayat 10b, merujuk kepada
malaikat-malaikat baik). Bahkan Petrus mengontraskan keangkuhan
para guru palsu ini dengan kelembutan malaikat-malaikat baik yang
sebenarnya jauh lebih kuat dan berkuasa dari mereka (ayat 11,
band. Yud. 8-10 yang konteksnya juga tentang guru palsu). Para
guru palsu itu tak ubahnya seperti binatang yang tidak berakal
(ayat 12). Binatang lebih memakai nalurinya daripada pikirannya,
demikian juga para guru palsu itu lebih mengikuti naluri dosa
mereka daripada dikontrol oleh kebenaran sejati. Kedua, hidup
para guru palsu dikuasai oleh nafsu terhadap kesenangan dunia
seperti pesta pora dan perzinahan (ayat 13-14). Bahkan mereka
melatih hati mereka dalam keserakahan (ayat 14). Kata melatih ini
mempunyai arti asli \'melatih seperti latihan atletik yang penuh
disiplin.\' Betapa mengerikannya pola pikir dan cara hidup mereka!
Perbuatan mereka seperti Bileam (Bil. 22-25) yang menempuh jalan
kebinasaan (ayat 15, band. Bil. 22:32). Pikiran Bileam dipenuhi
keserakahan dan nafsu untuk kepuasan dirinya semata. Akhirnya
adalah kebinasaan dan penghukuman (ayat 12-13).
Hidup di dunia yang penuh dengan pengumbaran hawa nafsu dan
kenikmatan sementara membuat orang yang lemah jadi mudah jatuh
(ayat 14). Kita diperingatkan untuk tidak meninggalkan "jalan
yang benar" (ayat 15), yaitu yang sesuai dengan pengajaran firman
Tuhan yang murni. Marilah tetap teguh dalam kebenaran (ayat 1:12)
dan melatih diri dalam kekudusan sehingga "kamu kedapatan tak
bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya" (ayat 3:14). Doktrin
yang benar harus menghasilkan kehidupan yang mulia.
|