|
Judul: Cara manusia: keliru!
Seberapa jauh kita harus berserah pada Tuhan? Adakah batas di mana
kita harus bertindak untuk menyelamatkan diri sendiri? Kita
mungkin sering mendengar kata-kata ini, "Allah menolong orang
yang menolong dirinya sendiri!" Tidak ada yang lebih menyesatkan
daripada pernyataan yang sangat tidak alkitabiah ini. Itulah yang
Daud lakukan, yaitu melarikan diri ke wilayah Filistin (ayat
27:1-4). Hal yang sama ia pernah lakukan beberapa saat yang lalu
(1Sam. 21:10-15).
Dengan melarikan diri ke luar wilayah Israel dan mengabdikan diri
pada Raja Akhis di Gat, Daud seakan-akan mempersalahkan Saul yang
menyebabkan dia berpaling dari Tuhan, untuk mencari perlindungan
ilah kafir (1Sam. 26:19b). Padahal ini adalah rekayasa Daud
sendiri. Ia tidak lagi mencari pimpinan Tuhan, seperti ketika ia
menolong kota Kehila (1Sam. 23:1-13).
Cara yang ditempuh Daud sangat riskan. Untuk meyakinkan Akhis bahwa
dirinya bukan ancaman bagi bangsa Filistin, ia harus berpura-pura
membantu Akhis melawan bangsanya sendiri (ayat 27:8-12). Masalah
muncul saat Akhis memutuskan untuk mengutus Daud dan pasukannya
menyertai pasukan Gat melawan pasukan Israel. Bagaimanakah
rencana manusia dapat menolong dirinya dari buah simalakama yang
ia ciptakan sendiri?
Kita pun sering tidak sabar menunggu waktu dan cara Tuhan dalam
menyelamatkan kita dari masalah hidup. Kita sudah memiliki
pemikiran sendiri tentang jalan keluar dari masalah kita. Tak
jarang kita bergerak sendiri mendahului Tuhan, bahkan tanpa
disadari sudah melawan Tuhan! Martin Luther mengajarkan bahwa
hidup anak Tuhan harus berpusat pada salib. Bukan hanya pada
waktu percaya Yesus dan diselamatkan, tetapi setiap langkah hidup
kita harus berpusat pada salib. Artinya memercayakan hidup
sepenuhnya pada pimpinan Kristus yang sudah menang atas segala
kuasa. Ia tak pernah keliru atau terlambat menolong!
|