|
Judul: Tidak main hakim sendiri
Apa yang Anda akan lakukan bila kepemimpinan Anda terancam oleh
seseorang yang menonjol dan terlihat berhasrat untuk
menyingkirkan Anda?
Sekali lagi, Daud, si \'pelarian\', dikontraskan dengan Saul, sang
raja. Sang raja menggebu-gebu untuk membasmi \'musuh\'. Ia
dikendalikan oleh ketakutan dan kekuatiran yang tidak rasional.
Padahal tak satupun tindakan Daud yang dapat dijadikan petunjuk
bahwa ia berniat memberontak. Saul bertindak bukan dalam hikmat
dan kecerdasan yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin. Coba
bayangkan, betapa tak sebandingnya bila harus mengerahkan
kekuatan militer demi melindas \'seekor kutu\' atau \'anjing mati\'?
Di pihak lain, walau tertindas bahkan terjepit, Daud tidak kehilangan
kepekaan akan pimpinan Tuhan. Walau ada kesempatan untuk membunuh
Saul, Daud tidak memanfaatkan saat itu. Mengapa? Daud tahu bahwa
Saul adalah raja yang diurapi Tuhan (ayat 7). Ia tidak merasa
mempunyai hak atas nyawa Saul, walaupun Saul begitu membenci dia.
Daud tidak menganggap Saul sebagai musuhnya. Daud tidak mau main
hakim sendiri karena sadar bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk
menghakimi dan menghukum orang yang bersalah (ayat 13). Hanya
Tuhan yang adil dan memiliki pertimbangan yang menyeluruh. Dengan
menahan diri dari "menjamah" Saul, Daud membuktikan kepada Saul
dan semua orang bahwa ia memang tak memiliki niat buruk pada
Saul.
Banyak orang yang juga seperti Saul, begitu ketakutan terhadap
orang-orang yang dianggap berpotensi merebut kedudukannya.
Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pelayanan pun tak
terlepas dari ketakutan seperti itu. Bila kita berada dalam
posisi seperti Daud dan menerima perlakuan seperti yang Daud
alami, direndahkan, dianggap tak becus, bahkan difitnah, tak
perlu dendam dan main hakim sendiri. Ingatlah bahwa pelayanan
yang kita kerjakan berasal dari Tuhan dan bagi kemuliaan Dia.
Maka yang penting kita lakukan adalah mengerjakan pelayanan
dengan setia.
|