|
Judul: Mengakhiri hidup
Kitab 1 Samuel ditutup dengan kisah tragis kekalahan pasukan Israel,
kematian putra-putra Saul dalam peperangan, dan bagaimana Saul
mengakhiri hidupnya. Saul bunuh diri (ayat 4) karena ia tidak mau
ditangkap hidup-hidup oleh musuhnya. Ia tidak mau dipermalukan
oleh mereka.
Upaya Saul mempertahankan wibawanya sebagai seorang raja setelah ia
mati, tidak berhasil. Memang ia berhasil menghindar dari menjadi
bulan-bulanan para musuhnya. Waktu itu, kebiasaan raja-raja yang
menang adalah mengarak tawanannya sebagai bukti keberhasilan
dalam perang. Apalagi bila yang berhasil ditawan adalah seorang
raja, tentu saja raja itu akan diperlakukan secara hina dan
memalukan. Namun kita melihat bahwa setelah Saul mati pun,
orang-orang Filistin tetap saja mempermalukan dia. Kepalanya
dipancung dan diarak ke mana-mana untuk menjadi bahan tertawaan
dan hinaan penduduk musuh, sedangkan mayatnya digantung di tembok
kota. Dengan demikian, walau Saul sudah tidak dapat merasakan
perbuatan sadis orang Filistin, tetap saja perlakuan tersebut
merendahkan statusnya sebagai raja.
Syukur kepada Tuhan, ada rakyat yang masih setia dan hormat kepada
Saul. Penduduk kota Yabesy-Gilead tak pernah lupa bahwa Saul
pernah menolong mereka dari sikap kejam bangsa Amon, musuh mereka
(1Sam. 11). Merekalah yang dengan gagah berani menerobos masuk ke
kota Filistin dan merebut kembali mayat pahlawan-pahlawan Israel.
Saul dan putra-putranya mendapatkan penghormatan yang semestinya.
Bukan bagaimana cara mati yang menentukan hina -- mulia seseorang,
melainkan bagaimana orang lain melihatnya. Sikap penduduk
Yabesy-Gilead, dan nanti Daud di 2 Samuel 1 menunjukkan rasa
kasih dan hormat kepada sosok yang dulu pernah cemerlang. Buat
kita, biarlah bukan bagaimana sikap orang terhadap kita yang
utama, melainkan bagaimana Tuhan menyapa kita.
|