|
Judul: Kepekaan seorang "raja"
Jabatan seseorang menunjukkan tugasnya. Namun ada orang yang punya
jabatan, justru tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya ada orang
yang tak punya jabatan, tetapi mau melakukan apa yang seharusnya
dilakukan orang yang punya jabatan. Itulah Saul dan Daud. Saul
adalah raja. Tugasnya adalah memerangi Filistin yang selama ini
merong-rong umat Israel. Namun hasratnya untuk menyingkirkan Daud
menyebabkan ia melalaikan tugas melawan Filistin.
Sebaliknya, Daud memang sudah diurapi menjadi raja oleh Samuel. Hanya
saja dia belum menduduki takhta. Ia malah menjadi pelarian dari
raja saat itu. Meski demikian, Daud lebih peka pada pimpinan
Tuhan untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan penduduk Kehila,
yang baru saja dijarah dan diperangi bangsa Filistin. Kuncinya
ada pada kesediaan Daud untuk dipimpin Tuhan. Tiga kali Daud
berkonsultasi pada Tuhan sebelum melaksanakan rencananya. Ia
belajar mencari kehendak Tuhan dan taat. Sebenarnya Tuhan sudah
menegaskan penyertaan-Nya atas pasukan Daud untuk mengalahkan
Filistin (ayat 2). Namun karena anak buah Daud masih kuatir, ia
bertanya sekali lagi (ayat 4). Akhirnya mereka pun maju
mengalahkan Filistin.
Kepekaan Daud tidak berkurang tatkala ia berhasil melepaskan
penduduk Kehila dari tangan Filistin. Ia sekali lagi meminta
pimpinan Tuhan untuk mengetahui tindakan berikut yang harus
dilakukan. Oleh jawaban Tuhan, Daud menyingkir dari Kehila dan
terluput dari kejaran Saul.
Tindakan Daud dan hasilnya merupakan tanda bahwa Tuhan menyertai dia.
Tanpa dia sadari, Tuhan sedang mempersiapkan dan melatih
kepekaannya sebagai raja untuk menggantikan Saul kelak.
Kepedulian pada orang lain dan kedekatan kepada Tuhan merupakan
modal dasar yang Tuhan dapat kembangkan dalam diri kita juga,
umat-Nya masa kini. Maka mari izinkan Tuhan membentuk Anda
menjadi hamba yang setia dan taat, agar Anda menjadi terang dan
saksi yang dibutuhkan dalam dunia yang jahat ini.
|