Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Hakim 17:1-13
< Juni
2008
>
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Minggu, 1 Juni 2008

Judul: Dengar suara Tuhan dan lakukan
Ironis! Nama Mikha berarti "Yang seperti Yahweh". Namun kisah hidupnya tidak memperlihatkan karakter seperti Yahweh. Ia mencuri uang ibunya (ayat 2). Nilai uang yang dicurinya tidak kecil, cukup untuk biaya hidup seorang Israel seumur hidup (band. ay. 10). Lalu mengapa ia mengembalikan uang itu? Mungkin ia takut kena kutuk ibunya. Akan tetapi, tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya. Mikha telah melanggar Hukum Taurat yaitu "Jangan mencuri" dan "Hormatilah ayahmu dan ibumu" (Kel. 20:15, 12).

Yang aneh, si ibu tidak memarahi anaknya. Ia justru memberkati dia. Mungkin ia berharap berkat itu membatalkan kutuk yang terlanjur dia ucapkan. Kemudian ia mau mempersembahkan uang itu kepada Tuhan. Nyatanya, hanya 200 dari 1.100 uang perak yang dia berikan. Si ibu telah mencuri 900 uang perak dari jumlah yang ia ingin persembahkan pada Tuhan. Rupanya Mikha belajar ketidakjujuran dari ibunya.

Kesalahan semakin fatal karena ibu dan anak memakai uang itu untuk membuat patung sesembahan (ayat 3-5). Ini juga melanggar Hukum Taurat, yaitu "Jangan membuat bagimu patung...." (Kel. 20:3). Namun kesesatan masih belum berhenti. Selain menyembah patung yang telah dibuat, Mikha menetapkan seorang Lewi menjadi imam (ayat 9-12). Padahal ia tidak punya otoritas untuk melakukan hal itu. Ia malah mengira bahwa Tuhan berkenan atas semua itu (ayat 13).

Apa komentar kita terhadap Mikha dan ibunya? Memang tidak tampak adanya maksud jahat di sini. Ia tampak tulus. Namun ketulusan saja tidak cukup, bila dilakukan tanpa landasan kebenaran. Bila kita lihat situasi dan kondisi pada masa itu, memang semua orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri (ayat 16). Tak ada tuntunan dan tak ada yang memimpin. Sungguh bersyukur kita, yang memiliki Alkitab sebagai penuntun hidup kita. Melalui Alkitab, kita bisa mendengar suara Tuhan. Maka jangan sia-siakan Alkitab kita. Sediakan waktu untuk menyelidiki apa yang berkenan di hati Tuhan, dan lakukan!

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini