|
Judul: Pembawa damai
Salah satu ciri penting anak-anak Allah adalah membawa damai, di mana
saja ia berada (Mat. 5:9). Hal ini tidak mudah. Jangankan
mendamaikan orang lain, diri sendiri pun seringkali tidak luput
dari permusuhan dunia ini. Dunia ini penuh dengan permusuhan,
kedengkian, dan sikap-sikap yang berpusat pada diri sendiri.
Kontras dengan Nabal, suaminya yang bertindak bodoh menyulut api
peperangan (ayat 17), Abigail menunjukkan sikap yang rendah hati
dengan menyongsong Daud yang bergegas menyerang rumah mereka
(ayat 23). Ia menawarkan perdamaian dengan mempersembahkan
makanan yang dibutuhkan Daud dan para pengikutnya (ayat 18).
Dengan tulus ia mengakui kesalahan Nabal, sebagai kecerobohan
dirinya (ayat 28). Ini sikap yang terpuji. Yang menggejala
sekarang ini adalah orang pura-pura tidak tahu, bahkan
melindungi, anggota keluarga yang bersalah. Jangankan minta maaf,
bukan tidak mungkin orang yang menjadi korban justru dikecam.
Abigail dengan kecantikannya bisa saja menggoda Daud untuk
membinasakan Nabal. Tentu ia akan menjadi janda yang \'berbahagia\'
karena mendapat kesempatan dinikahi Daud, petualang perkasa. Akan
tetapi, Abigail tidak demikian. Ia tidak egois, apalagi mencari
kesempatan dalam kesempitan. Kemudian akan terlihat bahwa
ketulusan dan kearifan Abigail membuahkan kedamaian. Panas hati
Daud menjadi surut. Ia bahkan bersyukur belum sampai mengumbar
dendam yang dapat mengakibatkan banjir darah (ayat 33-34). Nabal
sendiri kemudian mendapatkan hukuman dari Tuhan (ayat 38-39).
Sedangkan Abigail akhirnya dipersunting oleh Daud.
Mengambil peran sebagai pembawa damai, memang tidak selalu mudah.
Apalagi jika kita atau keluarga yang tersangkut masalah berada
pada pihak yang salah dan kalah. Kita akan cenderung membela
diri. Belajar dari situasi yang dihadapi Abigail, maka cara yang
terbaik adalah mengalah dan mengakui kesalahan kita, bila kita
memang bersalah. Biasanya orang pun akan bersedia memaafkan kita.
|