|
Judul: Iman, Janji, Anugerah
Berhadapan dengan pengaruh para pengajar sesat, Petrus menegaskan
jati dirinya di hadapan jemaat yang membaca suratnya. Ia
menyatakan diri sebagai hamba dan rasul Kristus. Hamba di sini
berarti budak belian. Artinya ia telah "dibeli" oleh Kristus,
lalu menjadi milik-Nya. Sebab itu, ia harus mematuhi
perintah-Nya. Sebagai rasul, ia diberi otoritas untuk menjadi
duta Allah. Kedua status itulah yang mendasari alasan Petrus
menulis suratnya.
Bila demikian Petrus memahami dirinya, bagaimana ia memandang pembaca
suratnya? Menurut Petrus, pembaca suratnya adalah "mereka yang
bersama-sama dengan kami memperoleh iman....." (ayat 1). Kata
"memperoleh" disini sama dengan menerima. Artinya iman yang
mereka miliki merupakan pemberian. Bila Petrus dan pembaca
suratnya sama-sama memiliki iman sebagai hasil pemberian Allah,
artinya Petrus menganggap pembaca suratnya setara dengan dia. Ia
tidak lebih besar dari mereka meski ia adalah rasul. Di sisi
lain, mereka juga tak perlu rendah diri walau mereka bukan
murid-murid pertama yang menjadi saksi mata karya Kristus. Mereka
memang merupakan generasi Kristen yang kedua, yang tidak pernah
melihat, mendengar, atau menyentuh Yesus secara langsung. Namun
mereka percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah yang berinkarnasi,
Juruselamat dunia. Itulah iman sebagai anugerah Allah, lahir
bukan karena mereka berusaha memilikinya melainkan karena diberi
Allah. Akan tetapi, karya Allah tidak berhenti sampai di situ. Ia
juga menganugerahkan janji-janji yang memampukan orang percaya
hidup berkenan kepada Allah (band. 1Yoh. 3:3). Janji-janji yang
memberikan kuasa kepada manusia untuk menjauhkan diri dari dosa,
yang dapat menghancurkan hidup manusia.
Janji-janji ini pun berlaku bagi kita, yang percaya kepada Kristus.
Kita harus menyelidiki janji-janji itu melalui pembacaan firman
Tuhan tiap-tiap hari. Gunakan janji-janji itu untuk menghadapi
pencobaan serta untuk berbuat benar. Niscaya semakin hari kita
akan makin serupa dengan Kristus.
|