Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 22:1-19
< Juli
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Senin 7 Juli 2008

Judul: Gelap mata
Seperti apakah perbuatan seseorang, yang tidak lagi dapat memakai akal sehat, terhadap orang yang dianggap mengancam dia? Gelap mata dan tidak terkendali! Itulah yang dilakukan Saul terhadap orang yang membantu Daud.

Kisah pembantaian Ahimelekh dan para imam di Nob adalah kisah tragis yang bisa dilihat dari berbagai segi. Pertama, dari sisi Daud. Tragedi ini terjadi karena Daud menipu Ahimelekh dengan mengatakan bahwa ia adalah utusan Saul untuk suatu maksud rahasia. Namun Saul justru menuduh Ahimelekh bersekongkol dengan Daud untuk mengkhianati raja. Daud sendiri menyadari akibat perbuatannya (ayat 22). Dari hal ini kita belajar untuk tidak sembarangan bertindak, karena bisa saja akibatnya akan merugikan orang lain.

Kedua, pembantaian ini merupakan penggenapan nubuat melawan keluarga Eli (1Sam. 2:27-33; 3:13-14). Ahimelekh adalah imam keturunan Eli. Allah murka kepada Eli dan keluarganya karena tidak menguduskan, bahkan menajiskan ibadah Israel di Silo. Salah satu hukuman itu adalah keluarga keturunan Eli akan dibantai dengan pedang (1Sam. 2:33).

Ketiga, dari sisi Saul. Pembantaian itu adalah tindakan Saul yang hilang kendali karena Roh Tuhan sudah meninggalkan dia. Saul tidak dapat lagi memakai akal sehat untuk menimbang salah benarnya suatu perkara, karena ia sudah memandang Daud sebagai musuh utamanya. Siapa pun yang terlibat dengan Daud, otomatis menjadi musuh yang harus disingkirkan. Dalam pertimbangan Saul, yang tidak rasional lagi, tindakan Ahimelekh adalah tindakan makar!

Sungguh menyedihkan kalau melihat bahwa ada juga pemimpin Kristen yang memiliki jiwa dan roh Saul, yakni dikendalikan oleh rasa dengki dan takut bila melihat penyertaan Allah atas orang lain. Akibatnya, mereka rela melakukan apa saja demi melanggengkan jabatan atau kuasa. Sebab itu, mari belajar menyerahkan hidup dan kendali atas hidup kita pada Tuhan. Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita dalam damai sejahtera-Nya yang tak berkesudahan.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini