|
Judul: Semakin terpuruk
Bagaimana cara menolong orang yang sedang terpuruk seperti Saul?
Sebagai orang Kristen, kita mengajak orang itu untuk kembali
menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Sebab di dalam
Kristus, Allah mengampuni orang berdosa dan memberikan kesempatan
untuk berubah.
Sayang, tidak seorang pun dari pihak Saul yang dapat memberi nasihat
yang dia butuhkan. Samuel, nabi yang dulu mengurapi dia, telah
meninggal. Memang dulu Saul menunjukkan sikap menolak nasihat
Samuel. Ternyata terbukti bahwa Samuel adalah nabi sejati. Akibat
ketidaktaatan Saul, ia ditolak Tuhan. Upaya Saul mencari petunjuk
dari Tuhan tidak mendapat hasil (ayat 6).
Dalam keadaan terpepet, Saul teringat Samuel dan berupaya mencari
nasihatnya. Sekali lagi sayang, caranya keliru. Saul mencari
Samuel melalui seorang peramal. Padahal cara ini tidak
diperkenankan Tuhan (Ul. 18:9-12). Saul sendiri pernah melarang
kegiatan ramal-meramal dan semua praktik perdukunan di Israel
(ayat 3b, 9).
Kemurahan Tuhanlah yang mengizinkan Saul mendengarkan suara Samuel
(ayat 16-19). Perikop ini memang menimbulkan perdebatan mengenai
apakah seseorang yang sudah mati bisa berkomunikasi dengan yang
masih hidup. Namun kita harus perhatikan bahwa ini adalah kasus
khusus, artinya bukan semua orang akan mengalami hal ini. Suara
Samuel hanya menegaskan pernyataannya ketika ia masih hidup,
bahwa Tuhan telah menolak Saul karena Saul tidak taat kepada Dia.
Saul dan keluarganya bersama dengan umat Israel akan menderita
kekalahan dari bangsa Filistin.
Catatan 1 Samuel selanjutnya memang mengisahkan secara tragis
kematian Saul, anak-anaknya, dan kekalahan Israel. Bagi Saul,
pintu pertobatan telah tertutup. Syukur kepada Kristus, karena
oleh darah-Nya, kita yang berulang kali gagal taat, mendapatkan
kemurahan-Nya. Maka jangan berkanjang terus dalam dosa dan
keputusasaan. Arahkan mata pada salib Kristus dan bangkit dari
keterpurukan!
|