|
Judul: Cara Tuhan yang berlaku
Hanya orang bodoh yang membiarkan kesempatan berlalu! Apalagi kalau
kesempatan sudah berulang kali hadir di depan mata. Mungkin itu
komentar kita melihat bagaimana Daud sekali lagi tidak
menggunakan kesempatan yang terbuka di hadapannya untuk
memastikan bahwa Saul tidak akan lagi mengejar-ngejar untuk
membinasakan dia. Bahkan sebenarnya ini kesempatan terbaik untuk
memastikan bahwa dirinya dapat menjadi raja Israel menggantikan
Saul. Bukankah Daud telah diurapi Tuhan?
Namun cara berpikir Daud berbeda dari cara kebanyakan orang yang
cenderung memikirkan kepentingan sendiri. Meski ingin meraih
kesempatan yang terbuka di depannya, Daud tidak melupakan Tuhan.
Ia mendahulukan Tuhan, yang berdaulat atas milik-Nya (ayat 9,
11). Ia percaya dan menunggu waktu Tuhan. Akan tiba saatnya, Saul
menerima hukuman bagi kejahatannya, sesuai dengan keadilan Tuhan
(ayat 10).
Dengan hikmat Tuhan, perkataan Daud kepada Saul membukakan pikiran
dan hati Saul. Pertama, tindakan Saul memburu Daud bukanlah
kehendak Tuhan, melainkan bujukan manusia. Maka tidak akan pernah
berhasil (ayat 19-20). Kedua, tindakan Daud tidak membinasakan
Saul walau kesempatan terbuka lebar, membuktikan bahwa kecurigaan
Saul kepadanya sama sekali tidak beralasan (ayat 23-24).
Akibatnya, Saul mengakui bahwa ia telah berdosa dan berlaku bodoh
serta sesat (ayat 21).
Cara Tuhan melampaui pikiran manusia. Kita tak sanggup menyelami
kecemerlangan hikmat Tuhan. Itulah terakhir kali Saul
mengejar-ngejar Daud. Daud sudah terbebas dari cengkeraman
kedengkian dan kecemburuan Saul. Tuhan memang tidak pernah
tinggal diam melihat anak-anak-Nya ditindas oleh kelaliman
orang-orang yang tidak takut Tuhan. Dia punya cara jitu dan
melampaui akal manusia, untuk menolong kita. Namun Dia
mengharapkan ketaatan total kita pada cara dan waktu Dia. Maka
jangan kacaukan hidup dengan berupaya menyelesaikan sendiri
masalah kita!
|