|
Judul: Hidup dan melayani selaras firman
Meski sesat, ada saja orang yang termakan pengajaran para guru palsu
dan menjadi korban. Apa "umpan" yang dipakai para guru palsu
untuk menjerat korban mereka?
Pertama, mereka memakai kata-kata yang congkak dan hampa (ayat 18).
Mereka membungkus pengajaran mereka dengan kata-kata yang menarik
dan membuai. Mereka pintar bicara, tetapi isinya kosong dan tidak
bermanfaat bagi pertumbuhan rohani. Mereka dapat diibaratkan mata
air yang kering dan kabut yang dihalaukan taufan (ayat 17).
Pengajaran mereka adalah kesia-siaan. Kedua, para guru palsu itu
memanfaatkan hawa nafsu cabul untuk menjerat orang-orang yang
lemah (ayat 18). Mereka mengumbar tawaran menikmati sensualitas
tanpa batas. Mereka menawarkan kemerdekaan dari batas-batas moral
dan kekudusan yang Allah tentukan (ayat 19, 21).
Ironisnya, sementara mereka menawarkan kemerdekaan untuk mengejar
nafsu, mereka sesungguhnya diperbudak nafsu. Oleh karena itu,
Petrus memperingatkan bahwa orang-orang yang terpancing
penyesatan para guru palsu itu (ayat 20-22) akan mengalami
keadaan yang lebih buruk daripada keadaan semula (band. Mat.
12:43-45). Mereka mungkin pernah berusaha mengikuti Jalan
Kebenaran, tetapi kemudian meninggalkan jalan itu. Ini
menunjukkan bahwa pada dasarnya mereka belum memiliki keselamatan
sejati, karena mereka masih hidup dalam dosa. Keadaan ini
digambarkan dengan peribahasa "anjing yang kembali ke muntahnya
dan babi yang kembali ke kubangannya" (ayat 22). Bisa jadi ada
orang yang penampilan lahiriahnya saleh dan memesona dengan
kata-kata rohani. Namun akhirnya mereka akan kembali kepada
"kubangan dosanya", karena itulah natur mereka.
Kita harus waspada dengan berbagai pengajaran yang beredar di gereja
saat ini. Jangan mudah tertarik kepada pengkhotbah yang fasih
lidah dan banyak mengumbar janji. Jangan hanya melihat kharisma
dan pengetahuan mereka. Lihatlah, apakah mereka memberitakan
kebenaran Tuhan yang sejati dan hidup selaras dengan pengajaran
mereka.
|