|
Judul: Rasa keadilan
Salah satu karakter yang perlu dibangun dalam diri seorang pemimpin
adalah sikap menjunjung tinggi keadilan. Sikap menjunjung
keadilan tidak sama dengan menjalankan hukum secara kaku. Sikap
adil akan mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil
keputusan.
Ketika Daud dan pasukannya bergegas mengejar musuh, di tengah jalan
ada sejumlah orang yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan
karena terlalu letih (ayat 9-10). Mereka akhirnya tidak ikut
menaklukkan musuh. Mereka juga tidak ikut mengangkut jarahan yang
diperoleh dari kemenangan gemilang tersebut (ayat 17-20).
Sebagian orang yang ikut memenangkan peperangan jadi bersikap sombong
karena merasa berjasa. Orang-orang itu melecehkan mereka yang
tidak ikut perang dengan cara tidak mau membagi hasil jarahan
yang didapat. Berlawanan dengan sikap mereka, Daud menetapkan
bahwa mereka yang tidak ikut berperang memiliki hak yang sama
atas jarahan, sama seperti mereka yang ikut berperang (ayat
23-24). Sikap Daud ini sungguh terpuji. Dia bertindak adil. Ia
melihat kemenangan yang mereka capai sebagai anugerah Tuhan,
bukan karena usaha dan kekuatan mereka. Maka tak boleh ada orang
merasa berjasa. Daud tidak memandang rendah orang-orang yang
kelelahan itu. Dia tahu bahwa setiap orang bisa saja mengalami
situasi seperti itu. Sikap Daud terhadap saudara-saudara
sebangsanya ini menunjukkan sikap seorang pemimpin yang adil dan
besar hati (ayat 26-31).
Sebenarnya bukan hanya pemimpin, tetapi setiap orang percaya pun
harus bersikap adil terhadap sesama. Ketika memiliki peranan
besar dalam suatu pelayanan, kita tak perlu menyombongkan diri
dan meremehkan orang yang kita anggap hanya memiliki peranan
kecil. Hargailah setiap orang, seberapa kecil pun peranannya.
Janganlah perbedaan peranan membuat kita memandang rendah orang
lain. Latihlah diri kita untuk memperlakukan mereka dengan adil
dan penuh kemurahan.
|