|
Judul: Hadapi realita dengan Iman
Dulu, saat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir dan menuju
Tanah Kanaan, mereka pernah memberontak pada Allah karena
ketakutan mendengar bahwa penduduk Kanaan raksasa yang perkasa
(Bil. 13-14). Akibatnya Tuhan menghukum mereka.
Kini, ketakutan yang sama rupanya dialami oleh pasukan Israel,
termasuk Raja Saul, saat melihat Goliat, pendekar Filistin, si
raksasa yang perkasa. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa gambaran
itu tidaklah berlebihan: tingginya sekitar 3 meter, berat baju
zirahnya sekitar 57 kilogram, berat mata tombaknya sekitar 7
kilogram (ayat 4-7). Saat itu Goliat menantang perkelahian satu
lawan satu. Wajar kalau tidak ada orang Israel yang berani
menghadapi Goliat. Tidak ada yang seimbang secara fisik. Tidak
juga ketiga kakak Daud yang menjadi prajurit Saul (ayat 13).
Keberanian untuk melawan Goliat justru datang dari Daud, pemuda yang
masih belia namun diurapi Allah. Keberanian Daud bukan karena ia
perkasa atau secara fisik seimbang dengan Goliat. Daud berani
karena ia tahu bahwa yang dia hadapi adalah seorang yang tak
bersunat (ayat 26), artinya bukanlah umat Allah. Goliat juga
menghujat Allah yang hidup. Meski dia sesumbar menantang umat
Israel, sesungguhnya yang ia lawan adalah Allah sendiri.
Saat menghadapi musuh yang berat, seharusnya pertanyaan kita bukan
seperti pertanyaan Israel, "Siapa yang berani melawan Goliat?"
Hendaknya kita seperti Daud, yang bertanya, "Siapa yang
berani-beraninya melawan Allah?" Ini pertanyaan orang beriman,
yang berdiri di pihak Allah yang hidup. Iman seperti ini jugalah
yang dulu membawa Yosua dan Kaleb boleh masuk ke tanah Kanaan,
saat generasi pertama Israel dimusnahkan di padang gurun.
Perjalanan hidup kita setelah dibebaskan Tuhan dari perbudakan
dosa juga harus kita jalani dengan iman yang berani, karena
keyakinan bahwa Tuhanlah yang mengarahkan dan memimpin langkah
hidup kita.
|