Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 17:1-27
< Juni
2008
>
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Senin, 30 Juni 2008

Judul: Hadapi realita dengan Iman
Dulu, saat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir dan menuju Tanah Kanaan, mereka pernah memberontak pada Allah karena ketakutan mendengar bahwa penduduk Kanaan raksasa yang perkasa (Bil. 13-14). Akibatnya Tuhan menghukum mereka.

Kini, ketakutan yang sama rupanya dialami oleh pasukan Israel, termasuk Raja Saul, saat melihat Goliat, pendekar Filistin, si raksasa yang perkasa. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa gambaran itu tidaklah berlebihan: tingginya sekitar 3 meter, berat baju zirahnya sekitar 57 kilogram, berat mata tombaknya sekitar 7 kilogram (ayat 4-7). Saat itu Goliat menantang perkelahian satu lawan satu. Wajar kalau tidak ada orang Israel yang berani menghadapi Goliat. Tidak ada yang seimbang secara fisik. Tidak juga ketiga kakak Daud yang menjadi prajurit Saul (ayat 13).

Keberanian untuk melawan Goliat justru datang dari Daud, pemuda yang masih belia namun diurapi Allah. Keberanian Daud bukan karena ia perkasa atau secara fisik seimbang dengan Goliat. Daud berani karena ia tahu bahwa yang dia hadapi adalah seorang yang tak bersunat (ayat 26), artinya bukanlah umat Allah. Goliat juga menghujat Allah yang hidup. Meski dia sesumbar menantang umat Israel, sesungguhnya yang ia lawan adalah Allah sendiri.

Saat menghadapi musuh yang berat, seharusnya pertanyaan kita bukan seperti pertanyaan Israel, "Siapa yang berani melawan Goliat?" Hendaknya kita seperti Daud, yang bertanya, "Siapa yang berani-beraninya melawan Allah?" Ini pertanyaan orang beriman, yang berdiri di pihak Allah yang hidup. Iman seperti ini jugalah yang dulu membawa Yosua dan Kaleb boleh masuk ke tanah Kanaan, saat generasi pertama Israel dimusnahkan di padang gurun. Perjalanan hidup kita setelah dibebaskan Tuhan dari perbudakan dosa juga harus kita jalani dengan iman yang berani, karena keyakinan bahwa Tuhanlah yang mengarahkan dan memimpin langkah hidup kita.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini