|
Judul: Motivasi yang keliru
Betapa sulitnya untuk taat mutlak pada Tuhan bila motivasi kita
sudah keliru. Mudah saja bagi kita untuk mencari alasan guna
membenarkan tindakan kita yang tidak seturut dengan firman
Tuhan. Inilah salah satu sebab kega-galan Saul.
Perintah Tuhan lewat Samuel kepada Saul untuk menumpas Amalek sangat
jelas (ayat 3). Tidak ada celah untuk ketidak-taatan. Alasan
Tuhan pun sudah diberikan: pembalasan Tuhan atas kejahatan
Amalek (ayat 2). Ini adalah peperangan Tuhan, bukan Saul. Namun
Saul melanggarnya. Dia menawan Raja Agag, sedangkan ternak yang
baik dan tambun dijarah rakyat (ayat 7-9). Kemudian secara
memalukan, Saul menggunakan alasan rohani untuk membenarkan
tindakannya bersama rakyat, menjarah ternak Amalek (ayat 15).
Kebanggaan seorang raja yang menang perang adalah dengan menawan
raja musuh dan mengaraknya sebagai tanda keberhasilan perang.
Namun tindakan Saul menyimpan Raja Agag dan membiarkan ternak
terbaik Amalek dijarah, merupakan tindakan ketidaktaatan kepada
Tuhan. Motivasinya adalah kemuliaan diri dan keserakahan. Saul
merampas kemuliaan Tuhan untuk dirinya sendiri. Ia loba dengan
kekayaan ternak Amalek, sehingga tidak rela membinasakannya.
Kemaruk harta membuat Saul mencuri hak milik Tuhan. Sikap Saul
ini memedihkan hati Tuhan, "Aku menyesal..." (ayat 11). Allah
menyesal bukan karena Ia keliru memilih Saul, melainkan karena
Saul memilih jalan yang membinasakan dirinya sendiri. Respons
Allah ini menyatakan kebesaran hati-Nya yang tidak pernah
memaksakan kehendak-Nya atas hamba-hamba-Nya.
Panggilan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya untuk melayani Dia adalah suatu
pilihan yang mengandung kehormatan, sekaligus tanggung jawab
yang besar. Adalah tanggung jawab kita, selaku hamba-hamba-Nya,
untuk senantiasa mengembalikan kemuliaan pada Allah dan tidak
membiarkan ambisi pribadi menghancurkan hidup kita.
|