Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 15:1-16
< Juni
2008
>
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Jumat, 27 Juni 2008

Judul: Motivasi yang keliru
Betapa sulitnya untuk taat mutlak pada Tuhan bila motivasi kita sudah keliru. Mudah saja bagi kita untuk mencari alasan guna membenarkan tindakan kita yang tidak seturut dengan firman Tuhan. Inilah salah satu sebab kega-galan Saul.

Perintah Tuhan lewat Samuel kepada Saul untuk menumpas Amalek sangat jelas (ayat 3). Tidak ada celah untuk ketidak-taatan. Alasan Tuhan pun sudah diberikan: pembalasan Tuhan atas kejahatan Amalek (ayat 2). Ini adalah peperangan Tuhan, bukan Saul. Namun Saul melanggarnya. Dia menawan Raja Agag, sedangkan ternak yang baik dan tambun dijarah rakyat (ayat 7-9). Kemudian secara memalukan, Saul menggunakan alasan rohani untuk membenarkan tindakannya bersama rakyat, menjarah ternak Amalek (ayat 15).

Kebanggaan seorang raja yang menang perang adalah dengan menawan raja musuh dan mengaraknya sebagai tanda keberhasilan perang. Namun tindakan Saul menyimpan Raja Agag dan membiarkan ternak terbaik Amalek dijarah, merupakan tindakan ketidaktaatan kepada Tuhan. Motivasinya adalah kemuliaan diri dan keserakahan. Saul merampas kemuliaan Tuhan untuk dirinya sendiri. Ia loba dengan kekayaan ternak Amalek, sehingga tidak rela membinasakannya. Kemaruk harta membuat Saul mencuri hak milik Tuhan. Sikap Saul ini memedihkan hati Tuhan, "Aku menyesal..." (ayat 11). Allah menyesal bukan karena Ia keliru memilih Saul, melainkan karena Saul memilih jalan yang membinasakan dirinya sendiri. Respons Allah ini menyatakan kebesaran hati-Nya yang tidak pernah memaksakan kehendak-Nya atas hamba-hamba-Nya.

Panggilan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya untuk melayani Dia adalah suatu pilihan yang mengandung kehormatan, sekaligus tanggung jawab yang besar. Adalah tanggung jawab kita, selaku hamba-hamba-Nya, untuk senantiasa mengembalikan kemuliaan pada Allah dan tidak membiarkan ambisi pribadi menghancurkan hidup kita.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini