|
Judul: Memimpin sampai akhir
Tidak banyak pemimpin yang mengakhiri kepemimpinannya dengan baik.
Ada yang jatuh di tengah jalan karena ambisi pribadi, ada pula
yang jadi gila kuasa sehingga tidak mau turun, meski sudah
waktunya.
Era hakim-hakim berakhir dan era kerajaan dimulai. Samuel sudah
menghantar umat Israel sesuai dengan panggilannya sebagai hakim
dan nabi. Saul sudah diterima dan dilantik sebagai raja.
Berikutnya kepemimpinan Samuel akan dilanjutkan oleh Raja Saul.
Bentuk dan cara kepemimpinan pasti berbeda, tetapi hal-hal
esensial harus sama.
Pertama, kepemimpinan Samuel bersih dari ambisi dan kepentingan
pribadi (ayat 3-5). Maka Saul dan setiap pemimpin harus
menyadari godaan besar untuk menyelewengkan kuasa dan otoritas
yang mereka miliki. Kedua, kepemimpinan Samuel berpusat kepada
Tuhan. Tuhan adalah Pemimpin Utama (ayat 7-17). Samuel
menegaskan dan mengajarkan bahwa umat Tuhan harus setia dan
taat, hanya kepada Tuhan. Walaupun Tuhan memberikan raja sesuai
permintaan mereka, kesetiaan utama tetap ditujukan kepada Tuhan.
Bahkan raja pun harus tunduk kepada Dia (ayat 14). Ketiga,
kepemimpinan Samuel didasarkan pada keadilan dan kebenaran
Allah, juga pada belas kasih dan kesetiaan-Nya (ayat 20-25).
Memang umat berdosa ketika meminta raja, tetapi saat mereka
mengakui dan menyesali dosa, Tuhan mengampuni dan memulihkan.
Dalam beberapa hal, kepemimpinan Saul memiliki kualitas seperti yang
ditunjukkan Samuel. Namun itu baru permulaan. Masih harus diuji,
apakah Saul sukses sampai akhir.
Godaan untuk menyelewengkan otoritas dan kuasa yang dipercayakan
kepada kita, sangat besar. Juga tak sedikit oknum pemerintahan,
masyarakat, gereja, maupun rumah tangga, yang kacau karena
kepemimpinan yang tidak konsisten dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan. Bila kita menjadi pemimpin, berilah diri kita dipimpin
oleh Tuhan lebih dulu. Bila kita tidak dalam posisi pemimpin,
dukunglah para pemimpin kita, salah satunya dengan doa.
|