|
Judul: Percayakan hidup pada-Nya
Tiada orang yang mengerti apa yang akan terjadi hari esok. Hidup
manusia bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
(Yak. 4:14). Hari ini ada besok bisa tidak ada, hari ini sehat
besok bisa sakit, dsb. Rencana yang dibuat manusia bisa
berhasil, tetapi bisa pula gagal.
Demikian pula dengan Saul. Dia sosok muda yang elok rupa, tinggi
besar, dan berasal dari keluarga berada (ayat 1-2), tetapi
rendah diri karena berasal dari keturunan Benyamin yang kecil
dan hina (ayat 21). Siapa sangka Tuhan akan memilih orang
seperti Saul untuk menjadi raja atas Israel? Cara Tuhan memilih
pun unik. Dia merancang pertemuan Saul dengan Samuel lewat
peristiwa yang khusus. Saat disuruh ayahnya mencari kawanan
keledai yang hilang, Saul taat. Karena tak kunjung menemukan apa
yang dicari, ia kemudian meminta petunjuk seorang abdi Allah.
Pada saat yang sama Allah mengutus Samuel dengan tujuan yang
jelas, yaitu untuk mengurapi Saul sebagai raja (ayat 15-17).
Walau separuh percaya, Saul mengikuti Samuel dan Samuel
menyatakan penghor-matannya kepada Saul dengan memberi tempat
terhormat dalam suatu perjamuan (ayat 24).
Seringkali dalam hidup ini kita merasa kecil, lemah, miskin, dan
hina. Pada saat itu kita merasa rendah diri dan tidak berarti.
Bukan tidak mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah yang akan
terjadi pada diriku esok? Apakah keadaanku nanti akan lebih
baik? Apakah aku akan berhasil suatu saat nanti? Hal ini bisa
menimbulkan kekuatiran, kecemasan dan ketakutan. Namun kita
perlu mengerti bahwa Tuhan merancang orang percaya untuk masa
depan yang penuh harapan dan damai sejahtera, bukan rancangan
kesengsaraan (Yer. 29:11). Segala sesuatu akan indah pada
waktunya. Tuhan bukan merancang kemiskinan, kejahatan, atau
sakit penyakit, pada anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Yang
penting, kita taat pada Tuhan Yesus. Niscaya Dia akan memberkati
kita. Allah adalah Bapa yang sangat baik bagi kita. Mari
percayakan hidup kita ke dalam tangan-Nya.
|