|
Judul: Bukan pandangan sendiri
Kisah kemerosotan moral di ps. 19 berkembang menjadi kekacauan
politik di ps. 20, dan berakhir pada disintegrasi sosial di ps.
21. Perpecahan yang telah terjadi membuat Israel memperlakukan
suku Benyamin sama seperti mereka memperlakukan bangsa Kanaan
(band. Im. 7:1-3).
Ketika di Betel, mereka baru menyadari dampak tindakan mereka
terhadap suku Benyamin (ayat 2). Perang saudara hanya menyisakan
600 laki-laki Benyamin. Jumlah yang sangat kecil. Ditambah lagi
ikrar mereka untuk tidak memberikan anak gadis mereka menjadi
istri suku Benyamin (ayat 1). Padahal 600 laki-laki yang tersisa
dari suku Benyamin, membutuhkan istri untuk menjaga kelangsungan
suku mereka. Mereka baru sadar kalau mereka terlalu gegabah
bersumpah, dan membuat suku Benyamin terancam punah.
Reaksi pertama kali adalah menyalahkan Allah atas situasi yang
terjadi (ayat 3). Padahal alasan sebenarnya adalah karena mereka
tidak mencari petunjuk Allah terlebih dahulu sebelum bertindak
(lih. Hak. 20:8-11). Baru kemudian saja mereka mencari kehendak
Allah lebih serius (ayat 4). Namun apa yang terjadi kemudian
tidak membuktikan pertobatan mereka. Bukan mengakui dosa karena
berlaku bodoh dalam membuat sumpah, Israel malah melakukan dua
perbuatan salah. Mereka mengambil gadis-gadis Yabesh-Gilead
dengan menumpas yang lain (ayat 10-14). Karena tindakan ini
masih belum menyelesaikan masalah, mereka menyuruh orang
Benyamin mengambil gadis-gadis Silo untuk dijadikan istri (ayat
19-23).
Bagai anak ayam kehilangan induk, demikianlah Israel dalam
menghadapi masalah. Ini terjadi karena mereka melakukan apa yang
benar menurut pandangan mereka sendiri. Kekacauan moral,
politik, sosial, dan kerohanian di Israel hanya dapat
diselesaikan bila mereka memahami bahwa mereka telah melupakan
Allah sebagai Raja mereka. Kiranya kita tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Jangan bertindak hanya menurut apa yang
kita anggap benar. Pertanyakan juga, apakah itu sudah benar
menurut pandangan Allah.
Pengantar Kitab
I SAMUEL
Kisah 1 Samuel menyambung kisah di kitab Hakim-hakim. Eli (ayat
1Sam. 4:18) dan Samuel (ayat 1Sam. 7:15) adalah hakim-hakim
terakhir. Keduanya memiliki jabatan rangkap. Eli, memiliki
jabatan imam (ayat 1:9) sementara waktu kecil, Samuel disebut
pelayan Tuhan. Namun kelak Samuel disebut sebagai nabi (ayat
3:20). Sebenarnya, Samuel hidup pada masa transisi dari masa
hakim-hakim ke masa kerajaan. Dia diutus untuk mengurapi dua
raja pertama Israel, Saul dan Daud.
Kitab 1 Samuel kemudian memfokuskan kisahnya pada dua raja pertama.
Kisah Saul adalah suatu tragedi, diawali permulaan yang baik,
tetapi berakhir tragis. Sebaliknya, Daud mulai dengan tidak
signifikan. Sepertinya dia naik daun setelah keperkasaannya
meme-nangkan pertarungan melawan jago Filistin, Goliat. Namun
hidupnya kemudian adalah serentetan kisah pelarian dari
pengejaran dan usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Saul,
yang dengki kepada dia. Akan tetapi, saat Saul semakin lama
semakin menurun, pamor maupun kesehatan mental dan rohaninya,
Daud justru semakin disukai rakyat banyak, serta memuncak pada
kisahnya sebagai raja Israel (ayat 2 Samuel). Separuh hidup Daud
kontras dengan hidup Saul.
Beberapa hal penting terjadi dalam kehidupan umat Tuhan yang dicatat
dalam kitab 1 Samuel. Pertama, ada pergeseran dalam sifat
kepemimpinan. Dari yang bersifat kharismatis, dengan Tuhan yang
mengangkat dan mengurapi hakim-hakim dari waktu ke waktu,
beralih kepada pemerintahan yang bersifat monarki, dengan raja
yang memang permulaannya dipilih dan diurapi Tuhan. Namun
kemudian diteruskan secara dinasti. Kedua, Allah membangkitkan
sistem kenabian sebagai lembaga yang berfungsi untuk mendampingi
dan kalau perlu mengoreksi lembaga ke-raja-an yang mudah
terjebak kepada otoritarian dan kediktaktoran. Para nabi
mendapat tugas dari Allah untuk mengingatkan umat Israel maupun
para pemimpin mereka agar tetap setia kepada Perjanjian Sinai.
Kitab 1 Samuel bersambung terus sampai kepada 2 Raja-raja,
membentuk kisah zaman kerajaan yang penuh dengan bukti kegagalan
umat Tuhan untuk setia pada perjanjian Sinai. Padahal Tuhan
tetap setia mengirimkan para nabi-Nya untuk menegur umat yang
tidak setia, serta mendorong pertobatan agar kembali kepada
Perjanjian Sinai.
|