|
Judul: Taat mutlak
Ketaatan pada Tuhan bersifat mutlak. Dialah Raja sejati yang
berdaulat penuh atas hidup umat manusia, baik ia rakyat biasa,
pembesar, atau seorang raja sekalipun. Namun Saul, raja yang
dipilih Tuhan, gagal untuk taat mutlak pada Tuhan.
Sebagai raja Israel yang sudah memerintah selama dua tahun (ayat 1),
Saul memiliki kuasa, pasukan, serta umat Israel yang mendukung
dia. Sayang ketika berada dalam keadaan yang terdesak oleh
pasukan Filistin, Saul tidak sabar menung-gu Samuel untuk
meminta pertolongan Tuhan. Ia memberanikan diri mengambil alih
tugas Samuel untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan,
meski tahu bahwa tindakan yang ia lakukan adalah pelanggaran
terhadap firman Tuhan. Sebab di Gilgal, di tempat ia telah
diangkat menjadi raja Israel di hadapan Tuhan, Samuel telah
menyampaikan firman Tuhan agar rakyat maupun raja harus takut
akan Tuhan, mendengar, dan tidak menentang firman Tuhan (ayat
1Sam. 12:20-25).
Alasan Saul tidak menaati firman Tuhan serupa dengan alasan yang
sering kita pakai. Pertama, terdesak oleh keadaan karena pasukan
Filistin menjepit mereka. Kita pun sering berkata bahwa kita
terpaksa melanggar firman Tuhan karena kondisi mendesak kita,
takut menghadapi kesulitan hidup, dsb. Kedua, tidak sabar
menantikan jawaban atau pertolongan Tuhan. Seperti Saul tidak
sabar menunggu Samuel, kita juga sering tak sabar menunggu
jawaban Tuhan bila sedang menggumulkan sesuatu. Kita ingin
secepat mungkin menyelesaikan masalah, tanpa peduli bila hal itu
melanggar firman Tuhan.
Saul kemudian ditolak oleh Tuhan dan kerajaannya tidak kokoh (ayat
14). Bukan karena kalah berperang dengan Filistin, melainkan
karena tidak taat kepada firman Tuhan. Maka kita harus belajar
untuk taat mutlak kepada Tuhan, dengan tidak mencari-cari
alasan. Kegagalan kita bukan terutama karena serangan iman dari
luar, melainkan lebih sering karena sikap hati kita yang tidak
sepenuhnya bersedia tunduk pada Tuhan.
|