|
Judul: Introspeksi dan pertobatan
Berkali-kali bangsa kita mengalami deraan bencana silih berganti:
wabah penyakit, gempa bumi, tanah longsor, banjir, lumpur panas,
kekeringan, juga kelaparan. Siapa yang patut disalahkan? Tak
seorang pun boleh serta merta menyalahkan orang lain. Kita harus
mulai dengan memeriksa diri sendiri. Jangan-jangan karena dosa
dan salah kita juga.
Pada perikop kemarin (ps. 5) Allah menghajar bangsa Filistin dengan
borok-borok (ayat 6, 9, 12) dan kerusakan ladang yang disebabkan
oleh tikus (ayat 1Sam. 6:5). Itu terjadi karena mereka
merendahkan diri-Nya di hadapan Dagon. Saat menyadari bahwa
penderitaan yang terjadi adalah akibat kesalahan mereka kepada
Tuhan, mereka berupaya mengembalikan tabut perjanjian ke tanah
Israel. Cara-cara yang mereka gunakan, yang berdasarkan budaya
dan ritual agama mereka, jelas berbeda dari peraturan Taurat
tentang bagaimana seharusnya memperlakukan Tabut Perjanjian.
Namun paling sedikit mereka menyadari bahwa Allah Israel kudus
sehingga perbuatan mereka yang telah menajiskan Allah, harus
dibayar dengan kurban tebusan salah (ayat 3, 8). Sebaliknya umat
Israel di Bet-Semes bersukacita menerima kembali Tabut
Perjanjian tersebut sebagai tanda bahwa Tuhan sudah berkenan
lagi kepada umat-Nya. Mereka menyambut dengan cara yang benar
dan tepat, yaitu memakai orang Lewi dan dengan mempersembahkan
kurban bakaran dan sembelihan (ayat 15).
Tuhan mungkin sedang memakai berbagai musibah yang melanda bangsa
kita, sebagai cara untuk mengingatkan bahwa Dia tidak bisa
dipermainkan. Oleh karena itu, kita yang sudah menjadi milik-Nya
harus lebih sungguh-sungguh lagi memuliakan nama-Nya. Kita harus
tetap setia hanya beribadah kepada Tuhan. Dengan hidup kudus
serta mengerjakan kebenaran dan kebajikan, kiranya orang yang
hidup jauh dari Tuhan melihat kesaksian umat Tuhan. Sehingga
dalam anugerah-Nya, mereka bertobat dan bangsa kita tidak harus
terus menerus menghadapi murka dan penghukuman-Nya di negeri
tercinta kita ini.
|