|
Judul: Tidak menghormati Allah
Komentar tajam sering dilontarkan terhadap perilaku bangsa kita.
Kita adalah bangsa yang beragama, rajin beribadah, tetapi
perilakunya seperti tidak bertuhan. Korupsi, kekerasan, dan
berbagai perilaku amoral marak, bahkan tidak jarang dilakukan
oleh para pemimpin.
Perikop hari ini mengontraskan perilaku dan sikap anak-anak Eli,
yakni Hofni dan Pinehas, dengan Samuel, si pelayan Tuhan yang
masih muda. Hofni dan Pinehas adalah imam-imam Tuhan yang tidak
menghormati Tuhan (ayat 12). Pertama, mereka melakukan fungsi
keimaman sebatas ritual, tetapi sesungguhnya tamak dan rakus
untuk mendapatkan daging kurban, jatah mereka sebagai imam.
Sikap mereka menurut penulis 1 Samuel adalah "memandang rendah
kurban untuk Tuhan" (ayat 17). Perbuatan mereka, melakukan
perampasan terhadap daging-daging yang belum dibakar lemaknya
(dalam Taurat, lemak dibakar untuk Tuhan) merupakan tindakan
pelecehan terhadap Tuhan. Kedua, mereka hidup secara amoral
(ayat 22). Tindakan mereka itu menajiskan diri dan mengotori
rumah Tuhan. Sayang sekali, Eli, sebagai ayah mereka tidak tegas
menegur anak-anaknya (ayat 22-25).
Samuel, yang hidup dan dibesarkan di rumah Tuhan, melihat
pemandangan yang kontradiktif itu: kudusnya rumah Tuhan dengan
segala ritualnya dikotori oleh tingkah laku para imamnya. Memang
perilaku dan sikap Samuel tidak dipaparkan secara jelas di sini.
Hanya saja dijelaskan bahwa ia "semakin besar dan semakin
disukai, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia" (ayat
26).
Apakah kita termasuk kelompok orang-orang yang hidup tidak
menghormati Allah, atau kelompok yang menjaga kekudusan diri
bagi kesaksian akan kemuliaan dan kebesaran Allah kita? Berbagai
perilaku dan sikap amoral yang dilakukan bangsa kita dan para
pemimpinnya, bukan hanya merupakan dosa terhadap sesama kita,
melainkan dosa terhadap Allah (ayat 25)! Tidak ada pengampunan
dan berkat Tuhan yang bisa diharapkan, kecuali bertobat
sungguh-sungguh!
|