|
Judul: Saat menghadapi pergumulan
Dalam suatu fase hidupnya, seseorang pasti pernah mengalami
pergumulan berat, yang membuat ia sampai bertekuk lutut
menaikkan doa-doanya. Mungkin tatkala orang yang dia kasihi
sedang meregang nyawa karena sakit, atau karena kesulitan
ekonomi yang membuat dia sampai tidak bisa memberi makan
keluarganya.
Hana juga sedang mengalami pergumulan berat, sampai-sampai ia tidak
bisa dihiburkan siapapun. Apa masalahnya? Ia tidak bisa
mengandung dan melahirkan anak! Ini merupakan aib bagi seorang
istri dalam budaya patriarkat, seperti Israel. Elkana, suaminya,
menambah penderitaannya dengan ketidakmampuan mengerti perasaan
istri yang tertekan (ayat 8). Apalagi sikap merendahkan dari
madunya, Penina yang bisa memberikan keturunan bagi Elkana.
Pandangan yang berlaku dalam bangsa Israel pada masa itu,
kemandulan merupakan hukuman Tuhan atas seorang wanita. Itulah
kata-kata hinaan Penina kepada Hana (ayat 6-7). Lalu, apakah
benar Tuhan sedang menghukum Hana?
Saat kisah ini berlanjut, kita menyadari bahwa pandangan seperti ini
tidak benar. Memang Tuhan yang menutup kandungan Hana (ayat 5),
tetapi bukan dengan maksud menghu-kum. Di tengah kepedihan hati
tiada tara, Hana mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Sengsara
memang bisa membuat orang mendekatkan diri pada Tuhan. Kalau
hidup lancar dan masalah tidak seberapa, betapa mudahnya kita
menganggap bahwa memang sudah seharusnya situasi itu yang
terjadi.
Melalui doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur, Tuhan memakai
Eli untuk menjawab pergumulan Hana. Hana terhibur karena ia tahu
bahwa Tuhan mendengar dan menjawab doanya. Namun buat kita,
jangan tunggu persoalan datang baru kita mencari Tuhan. Biasakan
diri mencari kehendak-Nya dan mengucap syukur atas semua hal
yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup kita. Percayalah bahwa saat
Anda benar-benar bersandar kepada Tuhan, Dia dapat diandalkan
dan jawaban-Nya tidak mengecewakan!
|