|
Judul: Ditinggikan vs direndahkan
Kemashyuran Tuhan bukan semata karena segala kebaikan yang Dia
perbuat atas umat-Nya, melainkan juga karena keadilan-Nya yang
Dia tegakkan melawan orang-orang yang tinggi hati. Itulah yang
menjadi pengalaman gereja dan anak-anak Tuhan sepanjang zaman.
Pujian Hana yang merayakan kebaikan Tuhan karena meninggikan mereka
yang rendah, lemah, dan terpinggirkan di mata dunia ini, bukan
hanya karena pengalaman pribadi-nya (ayat 1-3, 5). Pujian ini
menyingkapkan sifat dan cara Allah berkarya di dalam umat-Nya
dan melalui hamba-Nya. Allah adalah kudus, dapat menjadi tempat
bersandar, mahatahu, dan adil (ayat 2-3). Dia bertindak dalam
kemahakuasaan-Nya atas para pemimpin (ayat 4), atas perempuan
mandul (ayat 5), atas hidup dan mati (ayat 6), atas perbedaan
status yang dibuat oleh manusia berdosa (ayat 7-8), dan atas
para pelaku kejahatan (ayat 9).
Pujian Hana ini semacam nubuat akan hadirnya raja yang bertindak
atas nama Allah untuk menegakkan keadilan, mewujudkan
kedaulatan-Nya dengan menjungkirbalikkan kejahatan,
ketidakadilan, dan kebanggaan semu (ayat 10). Memang 1 Samuel
ini ditulis untuk memperlihatkan bagaimana Allah memegang
kendali atas sejarah umat-Nya. Bangsa Israel memang penuh
kelemahan. Bagi bangsa lain, Israel \'mandul\', tidak menjadi
kesaksian apalagi menjadi imam bagi bangsa-bangsa kafir.
Sementara di dalamnya, ketidakadilan merajalela. Hanya Tuhan
yang bisa membalikkan arah sejarah yang berjalan keliru. Ia
melakukannya melalui hamba-Nya yang diurapi. Nubuat ini digenapi
lewat Raja Daud dan keturunannya dalam skala nasional. Namun
dalam skala dunia, peng-genapan datang lewat Mesias, yang akan
membawa keadilan dan keselamatan bagi bangsa-bangsa.
Allah berkarya dalam hidup anak-anak-Nya, bukan karena keperkasaan
ataupun kepintaran mereka. Sebaliknya, yang rendah di mata dunia
akan diberi-Nya kuasa untuk menegakkan Kerajaan-Nya yang bukan
berasal dari dunia ini, yaitu kerajaan yang adil dan sejahtera.
|