|
Judul: Tuhan tetap berdaulat
Bagi Israel, dirampasnya tabut perjanjian adalah tanda bahwa Allah
telah meninggalkan mereka. Sebaliknya bagi Filistin,
keberhasilan mereka merampas tabut perjanjian merupakan bukti
kemenangan Dewa Dagon atas Tuhannya orang Israel. Sebagai tanda
takluk, tabut perjanjian ditaruh di kuil Dagon untuk melayani
sang dewa pemenang (ayat 2). Kondisi memalukan seperti inilah
yang harus dialami oleh umat Tuhan.
Namun asumsi bahwa Tuhan Allah Israel telah kalah, dihancurkan lewat
perikop ini. Allah menyatakan kemaha-kuasaan-Nya. Dagon hanya
berhala yang mati, yang tidak memiliki daya apapun terhadap
Allah, bahkan harus tunduk menyembah Allah (ayat 3-5). Dagon
juga terbukti tidak dapat diandalkan oleh bangsa Filistin. Dagon
tidak berdaya membela dan menolong para penyembahnya baik yang
di Asdod, Gat, bahkan Ekron, kota-kota penting Filistin, ketika
Allah menimpakan penyakit borok kepada mereka (ayat 6-12).
Tidak ada kuasa yang dapat menaklukkan Allah karena pada hakikatnya
semua di dunia ini adalah ciptaan Allah. Memang banyak orang
yang tidak mengenal Tuhan melihat penderitaan yang dialami umat
Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan, yang disembah umat-Nya, tidaklah
berkuasa. Tak heran bila orang-orang semacam itu melecehkan
Tuhan. Akan tetapi, Dia adalah Allah yang berdaulat. Dia tidak
akan membiarkan diri-Nya dipermainkan. Kita tentu mengingat
kisah orang-orang Kristen yang dipaksa meninggalkan kota dan
mendaki gunung agar bisa beribadah. Justru malapetaka melanda
kota tersebut sehingga banyak musuh Kristen yang binasa,
sebaliknya umat Tuhan yang ada di perbukitan malah
terselamatkan.
Tuhan tidak perlu dibela. Ia sanggup menghancurkan semua keangkuhan
dunia ini. Yang perlu anak-anak Tuhan lakukan adalah hidup
dengan benar sehingga orang tidak dapat menuduh kita salah,
melainkan Tuhan dipermuliakan melalui kesaksian kita.
|