|
Judul: Pemimpin sejati
Pemimpin yang baik mengetahui kebutuhan orang-orang yang dia
pimpin. Selain itu, ia juga memiliki empati terhadap pergumulan
mereka dan memiliki hikmat untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pemilihan Tuhan atas Saul terbukti tidak keliru. Walau beberapa
orang menghujat Tuhan dengan meremehkan Saul (ayat 1Sam. 10:27),
waktu membuktikan hal yang sebaliknya. Pada saat yang tepat,
kepemimpinan Saul pun menjadi nyata. Saat Yabesy-Gilead dihina
oleh Nahas, raja Amon, Saul bangkit oleh Roh Allah. Pertama,
Saul menunjukkan kepedulian Ilahi atas penderitaan yang dialami
sebagian umat-Nya (ayat 6). Kedua, Saul menggunakan otoritas
yang Tuhan berikan kepada dia untuk menantang bangsanya bersatu
melawan musuh (ayat 7-8). Saul memberikan semangat dan
pengharapan kepada orang-orang Yabesy-Gilead bahwa Tuhan akan
menolong mereka melalui umat-Nya (ayat 9). Ketiga, dengan hikmat
Ilahi Saul menggunakan strategi jitu menghancurkan musuh (ayat
11). Keempat, kepemimpinan Saul terkontrol dan tidak lepas
kendali. Ini nyata dari sikapnya yang tidak mendendam
orang-orang yang pernah menolaknya (ayat 13).
Apa yang Saul lakukan menjadi tanda bahwa urapan Allah ada pada
dirinya. Secara aklamasi pun bangsa Israel melihat dan menerima
Saul sebagai raja Israel urapan Allah. Atas dorongan Samuel,
akhirnya Saul benar-benar dinobatkan sebagai raja Israel (ayat
15).
Kita perlu berdoa agar tanda-tanda pengurapan Allah atas anak-anak
Tuhan yang dipercayakan memimpin dalam berbagai level dan bidang
kehidupan, menjadi nyata. Kita sendiri harus melatih diri dan
mengembangkan kepekaan tentang kebutuhan orang-orang yang kita
layani. Kita harus menggunakan otoritas Ilahi secara tepat untuk
membangun kebersamaan dalam pelayanan, dan tidak menyalahgunakan
otoritas itu untuk ambisi pribadi. Akhirnya, kita perlu rendah
hati untuk belajar memimpin umat Tuhan dalam memenangkan setiap
pertempuran rohani bagi kemuliaan Tuhan.
|