|
Judul: Persembahan syukur
Bagaimana menyatakan syukur terdalam kita? Banyak orang mengira
asalkan memberi persembahan yang lumayan banyak, katakanlah
lebih dari sepuluh persen - bukankah persepuluhan itu kewajiban
minimal? - maka itu sudah sesuatu yang menunjukkan lebih dari
sekadar kewajiban. Tentu Tuhan senang dengan persembahan
demikian.
Seringkali kita salah mengerti konsep ucapan syukur dan makna
persembahan. Kita mengucap syukur karena Allah telah berkarya
dalam hidup kita dengan karya yang tidak bisa dibandingkan atau
dibalas dengan cara apapun. Baik karya-Nya terbesar, yaitu
keselamatan dalam Kristus, maupun berbagai kebaikan Tuhan yang
kita alami dalam perjalanan iman kita, semua itu adalah
anugerah. Maka ucapan syukur adalah pengakuan bahwa semua
berasal dari Allah, dan tidak ada satu hal pun yang boleh kita
klaim karena jasa atau kelayakan kita. Dengan sendirinya,
persembahan kita berikan bukan karena kebaikan kita melainkan
keluar dari hati yang tulus bersyukur atas kebaikan-Nya.
Itulah yang dilakukan Hana setelah Tuhan "mengingat" (ayat 19)
dirinya dan mengabulkan permintaannya. Ucapan syukur Hana
tercermin dari nama putranya, Samuel (ayat 20). Samuel adalah
pemberian Allah. Oleh karena itu sebagai persembahan syukur,
Samuel dipersembahkan untuk melayani Tuhan sekehendak-Nya (ayat
28). Inilah persembahan yang berkenan kepada-Nya: "seumur hidup
terserahlah ia kiranya kepada Tuhan."
Banyak keluarga melihat sikap Hana ini sebagai teladan untuk
mempersembahkan anak sulung sebagai hamba Tuhan. Tentu tidak
setiap anak sulung dari keluarga Kristen, Tuhan pilih dan
panggil untuk menjadi hamba-Nya secara khusus. Jauh lebih
penting bagi kita untuk melihat teladan Hana sebagai respons
yang tepat terhadap anugerah. Berikan yang terbaik, yang Tuhan
mau kita persembahkan sebagai ucapan syukur dan pengakuan, bahwa
semua yang kita miliki berasal dari Tuhan semata.
|