|
Judul: Tidak taat menyembah berhala
Ketidaktaatan seringkali muncul karena melupakan anugerah, lupa
bahwa apa yang kita miliki itu berasal dari kasih karunia bukan
karena kelayakan, apalagi jasa pribadi. Akibatnya, kita merasa
diri tidak berhutang budi, dan tak jarang menganggap sepele
Tuhan, Sang Pemberi Anugerah.
Samuel mengingatkan Saul, bahwa kedudukan sebagai raja merupakan
anugerah yang harus dibarengi tanggung jawab. Sayang sekali,
Saul melupakan anugerah. Ia bertindak menurut kepentingannya
sendiri. Jawaban Saul yang terkesan rohani (ayat 20-21),
dibantah Samuel. Samuel menunjukkan bahwa sikap rohani bukan
hanya berupa kepatuhan pada kegiatan ritual, melainkan ketaatan
melakukan firman Tuhan (ayat 22). Ketidaktaatan adalah sikap
durhaka yang sama berat dengan dosa penyembahan berhala (ayat
23).
Serius sekali tuduhan Samuel kepada Saul: menolak firman Tuhan sama
dengan menduakan Dia. Perhatikan respons Saul yang kontradiktif.
Pertama, ia mengaku takut terhadap rakyat (ayat 24) sehingga
melanggar firman Tuhan. Padahal sebenarnya rakyat takut dan
patuh pada dia (lih. 1Sam. 14:24). Jadi alasan takutnya hanya
dicari-cari. Kedua, ia mengaku berdosa di hadapan Tuhan (ayat
25), tetapi tidak mau kehilangan muka di hadapan rakyat (ayat
30). Bagi Saul, harga diri lebih penting daripada menaati Tuhan.
Sikap "jaim" (jaga imej; bahasa populer remaja) ini menunjukkan
bahwa jabatan telah menjadi berhala. Ia, \'menurunkan\' Tuhan dari
takhta semestinya.
Menjadi pemimpin yang arogan, merasa banyak jasa, merasa tak pernah
bersalah, adalah tanda-tanda orang yang lupa anugerah. Bahasanya
yang rohaninya adalah kamuflase untuk menutupi motivasi yang
sebenarnya. Sikap merendah yang dia tunjukkan adalah kemunafikan
untuk menyelubungi ambisi pribadinya. Pemimpin seperti itu tak
mungkin membawa umat semakin dekat Tuhan. Ia malah memperalat
mereka untuk kepentingan pribadinya. Betapa jahatnya pemimpin
seperti ini. Jangan jadi pemimpin demikian dan jangan juga
memilih orang seperti itu untuk jadi pemimpin.
|