|
Judul: Konsekwensi menjadi nabi
Tidak mudah menjadi nabi di negeri sendiri, itulah yang Tuhan Yesus
alami. Orang-orang sekampung-Nya, di Nazaret, menolak untuk
percaya bahwa Dia adalah Nabi Allah (Luk. 4:16-30)!
Tidak mudah bagi Samuel menjadi nabi untuk menyam-paikan berita
penghukuman dari Tuhan bagi Eli, bapak dan mentor rohaninya.
Samuel sendiri masih muda (ayat 1). Ia belum pernah mengalami
panggilan Allah sebelumnya (ayat 3-8). Yang memberitahu Samuel
bahwa Allahlah yang memanggilnya justru Eli, yang kepadanya
nubuat penghukuman ditujukan (ayat 9, 11-14). Bagaimana mungkin
Samuel sekarang berkata-kata melawan Eli (ayat 15-18)?
Panggilan menjadi nabi bukan semata-mata kehormatan dan status,
tetapi terutama kepercayaan untuk menjadi jurubicara Allah yang
dapat diandalkan. Samuel dipersiapkan menjadi nabi dengan
praktik langsung di bawah asuhan mentornya, Eli. Ia belajar
mendengar dan membedakan suara Allah dari suara manusia. Ia
belajar taat pada suara Allah, walaupun hal itu mungkin tidak
menyenangkan manusia.
Samuel lulus ujian pertama. Allah berkenan kepadanya (ayat 19, 21)
dan seluruh Israel menerima dia sebagai nabi Tuhan (ayat 20).
Kisah Nabi Samuel yang dikontraskan dengan Imam Eli dan kedua
anaknya kelak akan terulang secara berbeda pada kisah Raja Saul
vs. \'raja\' Daud pada pasal-pasal kemudian. Intinya satu: Allah
berkenan menyatakan pilihan dan panggilan-Nya, tetapi yang
dipilih dan dipanggil memiliki tanggung jawab merespons dalam
iman dan ketaatan.
Jabatan nabi mungkin sudah tidak ada lagi dalam sejarah gereja.
Namun Allah masih memakai anak-anak-Nya untuk menyuarakan
kehendak Allah yang sudah tersurat dan tersirat dalam Alkitab.
Adalah bagian kita untuk menjadi \'nabi-nabi Allah\' yang setia
mengumandangkan kebenaran Allah. Namun bukan tidak mungkin akan
ada risiko yang kita tanggung sebagai konsekwensi dari
pemberitaan itu. Maka masalahnya, bersediakah kita menanggung
konsekwensi itu?
|