|
Judul: Tekad dengan Dasar Salah
Pemimpin yang bijaksana mempertimbangkan segala sesuatu dengan
kepala dingin dan hati yang jernih. Ia tidak gegabah memutuskan
sesuatu yang berkaitan dengan nasib orang-orang yang dia pimpin.
Sikap gegabah Saul terlihat ketika ia terdesak oleh musuh. Ia
memaksa rakyat mengucapkan sumpah yang berisi kutukan:
"terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari
terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku" (ayat
24). Sikap ini berlawanan dengan akal sehat, juga tidak
dilakukan dengan mencari petunjuk Tuhan terlebih dahulu.
Akibatnya rakyat yang seharusnya bisa menghimpun kembali tenaga
mereka dengan madu hutan, tidak dapat berbuat apa-apa. Memang
kemudian pasukan Israel menang terhadap Filistin. Namun
kemenangan itu justru karena kepemimpinan Yonatan (ayat 27-30).
Yang lebih celaka lagi adalah sikap Saul terhadap Yonatan. Tanpa
mempertimbangkan keadaan yang sebenarnya, bahwa Yonatan tidak
mendengar perintah sumpah Saul (ayat 27), Saul memvonis Yonatan
harus mati karena melanggar sumpah dengan memakan madu (ayat
44). Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika rakyat
tidak memberikan dukungan dan membebaskan Yonatan. Saul telah
membangun tekad dengan dasar yang salah, yaitu dengan sumpah
yang berisi kutukan. Sumpah dan kutuk hanya menghasilkan
kehancuran, sedangkan kebenaranlah yang menyelamatkan
kehidupan.
Dalam keadaan terdesak kita bisa salah mengambil sikap dan
keputusan, kita bisa membangun tekad di luar dasar iman. Cara
yang benar dalam mengambil keputusan adalah mencari petunjuk
firman Tuhan. Cara Tuhan bekerja sering melampaui pemahaman akal
sehat kita, tetapi bukan dengan cara-cara irasional. Tuhan
melihat jauh ke depan, yang tidak terlihat dengan indera mata
kita yang terbatas. Hanya kaca mata iman yang memampukan kita
melihat apa yang Allah sedang dan akan kerjakan di dalam dan
melalui diri kita.
|