|
Judul: Ketika menghadapi masalah
Sering dalam hidup ini kita diperhadapkan pada masalah yang menekan
dan menghimpit kita. Tekanan ini tentu saja mempengaruhi hidup
kita, dan mendesak kita untuk mengambil pilihan-pilihan yang
ditawarkan dunia. Bukan tidak mungkin kita mengambil pilihan
yang salah, yang akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Pada zaman hakim-hakim memimpin mereka, Israel mengalami keamanan
dan kemerdekaan. Namun begitu seorang hakim mati, terjadilah
kekosongan kepemimpinan. Akibatnya, mereka kembali dikuasai
musuh. Saat itu, Samuel sudah tua, sebentar lagi pensiun.
Anak-anaknya tidak bisa diharapkan menggantikan dia (ayat 3).
Israel menyadari bahwa tanpa dipimpin seorang raja, sebagaimana
yang dimiliki bangsa-bangsa lain, mereka rentan untuk dijadikan
bulan-bulanan musuh-musuh mereka. Maka mereka meminta raja untuk
menggantikan Samuel menjadi hakim atas mereka (ayat 5-6). Mereka
lupa bahwa kekalahan yang dialami Israel bukan karena tidak ada
kepemimpinan politik yang bersistem, melainkan karena dosa-dosa
mereka. Mereka lupa bahwa Allah adalah Raja, pemimpin sejati
mereka. Sudah berulang kali Allah terbukti dapat diandalkan.
Maka pilihan keliru, menolak Allah sebagai Raja dan menggantikan
Dia dengan manusia, mengandung konsekuensi yang besar. Samuel
menguraikan harga mahal yang harus mereka bayar kepada raja
(ayat 10-18). Walau demikian, bangsa Israel bersikeras untuk
mengambil jalannya sendiri.
Tekanan hidup seharusnya menjadikan kita lebih dekat dan bersandar
pada Bapa. Kita seharusnya minta petunjuk Tuhan lebih dulu dalam
menghadapi masalah. Jangan hanya mengandalkan kemauan dan
pikiran kita saja. Sebab pilihan kita belum tentu sesuai dengan
kehendak dan rancangan Allah. Oleh karena itu, libatkan Allah
ketika kita menghadapi setiap kesukaran. Ingatlah bahwa Tuhan
mau campur tangan dan tidak akan tinggal diam dalam setiap
masalah yang dihadapi anak-anak-Nya.
|