Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Samuel 6:19-7:17
< Juni
2008
>
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Selasa, 17 Juni 2008

Judul: Tobat: kunci kemenangan
Tabut Allah memang sudah kembali ke wilayah Israel, tetapi perkenan Allah belum! Kekudusan Allah tetap menghajar umat-Nya yang memperlakukan Dia secara sembarangan (ayat 19-20). Selama dua puluh tahun Israel masih menderita di bawah tekanan penjajahan Filistin. Mengapa demikian? Karena mereka belum bertobat dan sungguh-sungguh berpaling kepada Tuhan. Tuhan bukan tidak peduli. Bukan juga karena Dia kurang berkuasa. Namun umat Tuhan mendua hati. Mereka memang melihat Tabut Perjanjian sebagai lambang kehadiran Tuhan, tetapi hati mereka masih berpaut pada Baal dan Asytoret sesembahan mereka. Bagaimana mungkin mereka masih mengharapkan Tuhan mem-berkati mereka?

Samuel muncul untuk mendorong pertobatan sejati. Baru setelah umat Israel benar-benar meninggalkan ilah-ilah palsu dan menyatakan pertobatan dengan sungguh-sungguh (ayat 4, 6), Tuhan menyertai bahkan menolong mereka dalam menyingkirkan musuh bebuyutan mereka, yaitu Filistin. Tuhan kembali berperang bagi mereka, seperti telah dialami nenek moyang mereka alami dulu, ketika menaklukkan Kanaan (ayat 10). Kemenangan yang mereka alami kini, sungguh-sungguh mereka sadari sebagai karya Allah. Tuhan adalah Batu Pertolongan (Eben-Haezer) yang teguh. Sepanjang masa pelayanan Samuel sebagai hakim atas Israel, bangsa Filistin tidak lagi menjadi rongrongan bagi mereka.

Mungkin kekalahan demi kekalahan dalam hidup, ketika bergumul dengan pencobaan yang kita alami, disebabkan hati kita yang mendua. Walau kita mengaku Kristen dan berTuhankan Kristus, tetapi mata kita melirik pada ilah-ilah dunia ini. Bisa berupa kepercayaan-kepercayaan tradisi suku kita, bisa berupa pendewaan terhadap uang, harta, atau teknologi. Tidak heran Allah mendiamkan kita, mem-biarkan kita tergantung pada ilah palsu yang kita sembah. Hanya pertobatan sungguh-sungguh yang menjadi kunci agar Tuhan berkenan lagi mengampuni dan menolong kita!

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini