|
Judul: Tobat: kunci kemenangan
Tabut Allah memang sudah kembali ke wilayah Israel, tetapi perkenan
Allah belum! Kekudusan Allah tetap menghajar umat-Nya yang
memperlakukan Dia secara sembarangan (ayat 19-20). Selama dua
puluh tahun Israel masih menderita di bawah tekanan penjajahan
Filistin. Mengapa demikian? Karena mereka belum bertobat dan
sungguh-sungguh berpaling kepada Tuhan. Tuhan bukan tidak
peduli. Bukan juga karena Dia kurang berkuasa. Namun umat Tuhan
mendua hati. Mereka memang melihat Tabut Perjanjian sebagai
lambang kehadiran Tuhan, tetapi hati mereka masih berpaut pada
Baal dan Asytoret sesembahan mereka. Bagaimana mungkin mereka
masih mengharapkan Tuhan mem-berkati mereka?
Samuel muncul untuk mendorong pertobatan sejati. Baru setelah umat
Israel benar-benar meninggalkan ilah-ilah palsu dan menyatakan
pertobatan dengan sungguh-sungguh (ayat 4, 6), Tuhan menyertai
bahkan menolong mereka dalam menyingkirkan musuh bebuyutan
mereka, yaitu Filistin. Tuhan kembali berperang bagi mereka,
seperti telah dialami nenek moyang mereka alami dulu, ketika
menaklukkan Kanaan (ayat 10). Kemenangan yang mereka alami kini,
sungguh-sungguh mereka sadari sebagai karya Allah. Tuhan adalah
Batu Pertolongan (Eben-Haezer) yang teguh. Sepanjang masa
pelayanan Samuel sebagai hakim atas Israel, bangsa Filistin
tidak lagi menjadi rongrongan bagi mereka.
Mungkin kekalahan demi kekalahan dalam hidup, ketika bergumul dengan
pencobaan yang kita alami, disebabkan hati kita yang mendua.
Walau kita mengaku Kristen dan berTuhankan Kristus, tetapi mata
kita melirik pada ilah-ilah dunia ini. Bisa berupa
kepercayaan-kepercayaan tradisi suku kita, bisa berupa pendewaan
terhadap uang, harta, atau teknologi. Tidak heran Allah
mendiamkan kita, mem-biarkan kita tergantung pada ilah palsu
yang kita sembah. Hanya pertobatan sungguh-sungguh yang menjadi
kunci agar Tuhan berkenan lagi mengampuni dan menolong kita!
|