|
Judul: Pemimpin yang rendah hati
Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengenal diri sendiri.
Ia mengetahui bahwa sukses kepemimpinannya bukan semata-mata
karena keberhasilan dirinya sendiri. Dengan rendah hati, ia akan
mengakui bahwa banyak pihak yang berperan di balik
keberhasilannya.
Saul menyadari bahwa kedudukannya sebagai raja adalah karena
kehendak dan pilihan Allah (ayat 25). Dia bukan menjadi raja
yang memiliki kuasa mutlak. Dia diurapi Tuhan sebagai pelaksana
kehendak Allah. Allahlah yang memegang kedaulatan secara mutlak,
sehingga walaupun sebenarnya rakyat bersalah dengan meminta raja
(ayat 18-19), tetapi Allah, dalam belas kasih-Nya, memberikan
raja buat mereka.
Saul sadar bahwa ia hanya dapat memerintah rakyat sesuai dengan
kesetiaan dan ketaatannya kepada Allah. Sifat kerendahan hati
Saul diwujudkan dengan menyembunyikan dirinya, karena merasa
tidak layak menjadi pemimpin (ayat 22). Dia tidak mau
menonjolkan diri dan tidak mencari kedudukan raja. Dalam
kebijaksanaannya, dia tidak mau menonjolkan diri. Ia menunggu
sampai ada kesempatan untuk menunjukkan siapa dia, sampai
orang-orang Israel mengakui dia sebagai raja (ayat 23-24). Ia
tidak langsung mengklaim hak dan kekuasaan sebagai raja. Ia juga
tidak merasa terganggu dengan orang-orang yang menolak mengakui
dia sebagai raja mereka. Ia tidak sakit hati dan kecewa dengan
orang-orang yang menentang dia (ayat 27).
Banyak pemimpin menjadi congkak karena melupakan berbagai faktor
yang berperan dalam mensukseskan kepe-mimpinan-nya. Pemimpin
seperti itu tidak dapat diandalkan untuk memimpin dengan baik
karena sikapnya yang sewenang-wenang dan cenderung
menyalahgunakan kekuasaan. Oleh karena itu, kita patut belajar
dari teladan Saul yang rendah hati. Biarlah Tuhan sendiri yang
mengangkat kita untuk melayani Dia sebagai pemimpin umat-Nya.
Kerendahan hati dan ketaatan pada Tuhan adalah kunci sukses
seorang pemimpin.
|