|
Judul: Diutus kepada bangsa pemberontak
Tugas Yehezkiel berat sekali. Ia harus memberitakan firman
penghukuman pada bangsanya sendiri. Mirip dengan tugas yang
Yeremia terima. Kita telah melihat, visi kemuliaan-Nya sudah
dinyatakan, lalu firman-Nya disampaikan (ayat 2:1-3:15). Urapan
Roh Allah hadir pada Yehezkiel. LAI (TB, 1974) memakai
"kembalilah rohku ke dalam aku", namun terjemahan lebih tepat
"Roh (Tuhan) memasuki aku" (ayat 2).
Tugas Yehezkiel yang berat dipaparkan demikian: Ia akan menghadapi
bangsa yang mendurhaka kepada Tuhan (ayat 3). Baik mereka maupun
nenek moyang mereka telah berlaku tidak setia kepada Tuhan.
Begitu buruknya sikap mereka di mata Tuhan sehingga dalam perikop
ini sapaan mesra "umat-Ku" (\'ami, Ibr.) yang biasa dipakaikan
Tuhan kepada Israel tidak digunakan. Mereka disapa dengan memakai
istilah bangsa (goy, Ibr., biasa dipakaikan kepada bangsa-bangsa
yang tak mengenal Tuhan; 3). Kedurhakaan mereka diungkapkan lewat
satu kata yang berulang dipakai, pemberontak (ayat 3, 5, 6, 7, 8)
dan dua kata yang menunjukkan karakter yang tidak mau diajar,
yaitu keras kepala dan tegar hati. Sebutan akrab TUHAN (Yahweh)
pun hanya digunakan untuk menegaskan asal usul firman yang harus
Yehezkiel beritakan (ayat 4). Yehezkiel akan mengalami masa sulit
dan berbahaya seperti orang yang tinggal di tengah semak belukar
yang berduri yang dihuni kalajengking yang sangat berbisa (ayat
6). Tidak ada kepastian apakah Israel akan mendengarkan
pemberitaan Yehezkiel akan firman Tuhan atau tidak (ayat 5, 7).
Situasi sulit yang dihadapi Yehezkiel tidak beda jauh dengan situasi
yang dihadapi kekristenan masa kini. Bangsa kita pun bangsa
pemberontak, keras kepala, dan tegar hati, walaupun Tuhan telah
menegur dengan berbagai cara: deraan gempa bumi, malapetaka alam
maupun buatan manusia, dan keterpurukan ekonomi yang semakin
menjadi-jadi, dst. Sama seperti kepada Yehezkiel, kita
diperintahkan untuk tidak takut kepada manusia, sebaliknya taat,
tidak memberontak kepada penugasan Tuhan.
|