|
Judul: Hati-hati sesat!
Seorang gembala jemaat bertugas membina iman jemaat. Namun ada saja
kemungkinan si gembala harus menghadapi orang yang senang
berdebat. Orang semacam ini bukan sedang mencari jawaban atas
pergumulan imannya. Biasanya ia hanya senang cari-cari masalah.
Menurut Paulus, ini harus dihindari (ayat 9). Meski sanggup
mempertahankan iman, tak ada guna buang-buang waktu karena yang
dicari bukanlah kebenaran. Jadi jangan sampai terjebak pada debat
kusir. Itu tidak membuat Injil dikenal orang. Perdebatan tak akan
membuat iman seseorang bertumbuh. Juga jangan sampai orang merasa
diri saleh hanya karena ia sibuk mendiskusikan masalah iman.
Kekristenan tak hanya berhenti sampai wacana, melainkan harus
mewujud dalam tindakan. Bukan berarti tak ada tempat untuk
mendiskusikan iman, tetapi iman yang tidak berakhir pada sebuah
tindakan adalah sia-sia. Mendiskusikan iman bukan ditujukan untuk
membuktikan pendapat atau memenangkan argumen.
Ada lagi kelompok orang yang sering menyusahkan hamba Tuhan, yaitu
bidat. Bidat adalah penyesatan ajaran yang berpotensi memecah
belah gereja. Sebenarnya penganjur dan pengikut bidat harus
segera dijauhi karena mereka tidak menghargai kebenaran. Namun
Paulus masih memberikan kemungkinan pertobatan, karena itu para
pengikut bidat tetap harus diberi peringatan dan dibimbing (ayat
10). Mungkin dengan nasihat hamba Tuhan, mereka akan sadar dan
berbalik ke jalan yang benar. Akan tetapi, bila mereka tidak
menghiraukan peringatan atau nasihat, tetapi tetap sesat maka
mereka tak perlu dihiraukan lagi. Sia-sia saja memberikan nasihat
kepada orang-orang semacam itu. Mereka malah bisa menularkan
kesesatan kepada jemaat.
Terjebak pada kesesatan apalagi mengajarkan kesesatan adalah hal yang
harus kita hindari. Filter untuk mengenali kesesatan adalah
firman Tuhan. Maka tak ada jalan lain untuk menghindari kesesatan
selain dari mengenali kebenaran itu sendiri. Karena itu bacalah
Alkitab dan pelajarilah.
|