|
Judul: Allah tetap setia
Bagaimana reaksi kita ketika melihat orang lain melakukan dosa?
Maklum karena berpendapat bahwa tiap manusia punya kelemahan?
Atau marah sekaligus berduka karena kesalahan yang dia perbuat?
Teks hari ini memperlihatkan reaksi Ezra terhadap dosa yang dilakukan
oleh orang-orang buangan yang kembali ke Yerusalem dari Babel.
Setelah beberapa bulan tinggal di Yerusalem, Ezra menerima
laporan bahwa orang Israel menikah dengan orang kafir. Bahkan
para imam, orang-orang Lewi, para pemuka, dan penguasa juga
melakukan hal itu (ayat 1-2). Tragis bukan? Dapat dimengerti bila
Ezra sungguh-sungguh berduka sehingga ia sampai merobek
pakaiannya dan mencabut janggut serta rambut di kepalanya (ayat
3). Walaupun Ezra tidak ikut melakukan dosa itu, tetapi ia datang
kepada Allah untuk mengakui segala kesalahan yang dilakukan
bangsanya.
Kondisi spiritual komunitas pascapembuangan itu memang
memprihatinkan. Inilah bukti kegagalan mereka dalam memisahkan
diri dari para penyembah berhala yang mendiami tempat itu. Begitu
parahkah akibat kawin campur hingga Ezra menunjukkan rasa
prihatin yang luar biasa? Ya! Kawin campur mengakibatkan tidak
ada lagi area dalam kehidupan umat Allah yang tidak dicampuri
oleh para penyembah berhala ini: perdagangan, pemerintahan,
kehidupan sosial, bahkan kehidupan keagamaan. Membiarkan kawin
campur berarti membiarkan adanya kompromi di berbagai bidang. Ini
bahaya! Dosa itulah yang menyebabkan Israel dibuang ke Babel! Itu
sebabnya Ezra prihatin. Bagaimana mungkin mereka jatuh ke dalam
kesalahan yang sama sampai dua kali?
Dosa kawin campur masih juga dilakukan oleh orang-orang yang mengaku
Kristen sampai saat ini. Coba perhatikan apa yang terjadi pada
diri mereka kemudian. Banyak dari antara mereka yang kemudian
beralih iman. Namun yang pasti mereka tidak dapat hidup sebagai
pelaku firman yang sejati. Tugas kita adalah tetap teguh di dalam
iman dan ingatkan mereka yang menyimpang dari iman yang benar.
|