|
Judul: Hati-hati! Ada pengajar sesat!
Musuh dalam selimut", begitulah sebutan yang tepat bagi para pengajar
sesat yang Paulus sebutkan. Mengapa demikian? Karena mereka
berada di tengah-tengah jemaat, tetapi menyesatkan jemaat (ayat
10). Ini berbahaya, karena ajaran mereka hanyalah berisi pendapat
mereka sendiri, dan bertentangan dengan firman Tuhan. Mengapa
mereka tega melakukan hal itu? Keuntungan diri sendiri, itulah
motivasinya (ayat 11, 12). Meski mereka mengaku mengenal Allah,
tetapi hidup mereka menunjukkan penyangkalan akan Dia (ayat 16).
Karena itu, tidak ada jalan lagi bagi Titus selain membungkam
mereka karena telah menimbulkan kekacauan di dalam gereja. Mereka
tidak boleh diberi kesempatan untuk menyebarkan pengajaran
mereka. Caranya? Titus harus menegur mereka! Mereka tidak boleh
lagi mengajarkan dongeng-dongeng dan pengajaran yang bertentangan
dengan kebenaran (ayat 14)!
Memang tidak boleh ada kata sungkan dalam menghadapi pengajar sesat.
Kegagalan mengkonfrontasi kesesatan memperlihatkan tidak adanya
penghargaan terhadap Kitab Suci. Lalu bagaimana cara menangkal
mereka? Satu-satunya jawaban adalah: dengan berpaut pada firman
Tuhan! Itu sebabnya Paulus menekankan tanggung jawab penatua
untuk memahami Kitab Suci dengan benar (Tit. 1:9). Tujuannya,
agar mereka dapat mengoreksi ajaran-ajaran tersebut.
Nasihat Paulus itu harus kita pegang juga. Camkan baik-baik, tidak
ada jalan lain untuk melawan kesesatan selain dengan berpegang
pada firman Tuhan! Bila kita tahu yang benar, maka kita akan
memahami mana yang salah. Bila hidup kita tidak dilandaskan pada
kebenaran, bagaimana kita dapat mengetahui mana yang sesat?
Mungkin saja lambat laun kita akan digeser dari pemahaman kita
akan kebenaran kepada kesesatan, tanpa kita sadari! Karena itu,
tidak ada jalan lain selain membaca Alkitab tiap-tiap hari.
Pelajari kebenaran yang terdapat di dalamnya. Selidiki tiap
pengajaran yang kita dengar dan jalani!
|