|
Judul: Dahulukan Allah
Seorang hamba Tuhan bertugas memperhatikan kehidupan iman umat Tuhan.
Bila umat melakukan hal yang tidak sesuai firman Tuhan, hamba
Tuhan wajib menegur.
Teguran Hagai ditujukan kepada umat Tuhan yang kembali dari
pembuangan. Mereka tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian
rencana Allah bagi umat-Nya. Lalu mereka merespons maklumat raja
Babel dengan kembali ke Yerusalem. Mereka juga ingin memulihkan
peribadatan dengan membangun kembali Bait Allah yang telah
diruntuhkan musuh. Namun misi yang sudah tertanam di hati menjadi
luntur karena tantangan dan perlawanan yang mereka hadapi.
Pembangunan mezbah dan fondasi Bait Allah yang telah mereka
mulai, berakhir tanpa kejelasan. Mereka larut dalam kehidupan
sendiri dan menunda-nunda pembangunan (ayat 2-4). Akibatnya Tuhan
menghukum mereka dengan krisis ekonomi (ayat 5-6, 9-11)! Akan
tetapi, mereka tidak sadar bahwa penderitaan yang mereka alami
merupakan cara Tuhan menegur mereka. Maka Tuhan mendesak mereka
untuk berpikir mengapa hasil kerja menjadi gagal (ayat 5-6).
Sebab itu mereka harus kembali menjalankan misi semula. Mereka
harus mengambil langkah konkret untuk mulai membangun Bait Allah
(ayat 7).
Mundur dari pelayanan karena tidak berani menghadapi tantangan bukan
sikap yang diperkenan Allah. Melalaikan kehendak Allah dan
mengurus kepentingan diri sendiri juga bukan sikap yang
dikehendaki Allah, bahkan dapat mengundang murka-Nya. Kita perlu
menghindari sikap semacam ini. Mengurusi kepentingan diri tidak
akan pernah selesai. Memenuhi kebutuhan fisik dan material saja
tidak akan pernah mendatangkan kepuasan. Sebab itu ingatlah bahwa
sikap cari aman, mendahulukan kepentingan diri, dan mengabaikan
kemuliaan Allah adalah ciri orang yang kehilangan perspektif
iman. Akibatnya jadi tuli terhadap suara Tuhan dan buta terhadap
teguran-Nya. Sebab itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat.
6:33).
|