|
Judul: Menata ulang keumatan
Ketika arus mudik saat lebaran tiba, kita menyaksikan suasana yang
begitu gembira. Para pemudik terlihat bersukacita meski harus
bersusah payah mengantre tiket ataupun kena macet dalam
perjalanan yang melelahkan.
Orang-orang Israel yang datang ke Yerusalem dalam bacaan ini bukanlah
pemudik tahunan. Mereka kembali setelah dibuang ke negara lain
sekian lama. Mereka pulang karena merespons maklumat yang
dikeluarkan oleh Raja Koresy. Mereka kembali ke tempat di mana
identitas dan martabat mereka sebagai bangsa akan dipulihkan.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka. Ada harapan untuk
kehidupan yang lebih baik, tapi pasti terselip juga kecemasan
apakah memang kehidupan mereka di kampung halaman akan lebih
baik.
Maka dibuatlah daftar nama-nama keluarga yang akan kembali beserta
jumlah mereka (ayat 3-21). Pendaftaran nama-nama tersebut dibuat
dengan memerhatikan tempat tinggal mereka (ayat 22-35),
fungsi-fungsi mereka dalam kaitan dengan pelayanan kerohanian
(ayat 36-41), dan pelayanan pemerintahan atau kemasyarakatan
(ayat 42-57). Dalam kasus mereka menolak orang-orang yang tidak
murni keturunan Lewi dari pelayanan imam, menunjukkan bahwa
pendaftaran ini bertujuan menyiapkan struktur komunitas yang
serasi dengan yang nenek moyang mereka pernah miliki sebagai umat
Allah. Untuk hal ini orang Israel tidak mau main-main. Dengan
tegas mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak tahir tidak
boleh menjabat sebagai imam.
Jabatan imam memang hanya dikhususkan bagi suku Lewi. Tidak ada suku
lain yang boleh menggantikan. Apalagi orang-orang yang tidak
jelas jati diri dan asal usulnya. Begitu pula, ada hal-hal khusus
yang hanya boleh dilakukan oleh pendeta di gereja. Misalnya tugas
membaptis, memberikan pemberkatan nikah, atau memimpin perjamuan
kudus. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan dalam gereja agar
kita menjadi gereja yang benar.
|