|
Judul: Menjadi mezbah hidup
Membangun kembali mezbah bagi Tuhan merupakan langkah utama bagi
bangsa Yahudi pascapembuangan. Sebab bagi mereka puncak ibadah
umat adalah mempersembahkan kurban bagi Tuhan. Kurban bakaran
adalah kurban yang seluruhnya dibakar, yang mengibaratkan
totalitas pemberian. Dalam satu hari ada dua kurban bakaran anak
domba yang dipersembahkan, satu pagi dan satu lagi sore (Kel.
29:38-42). Kemudian ada pula persembahan yang lain seperti
persembahan sukarela yang dibawa setiap saat dan kurban untuk
pesta-pesta suci. Bahkan dalam ayat 4 dinyatakan bahwa mereka
juga mengadakan hari raya Pondok Daun. Semua itu dilakukan dengan
pengucapan syukur dan sukacita yang besar. Selain itu kita dapat
melihat sikap umat yang luar biasa saat dasar Bait Suci
diletakkan. Seluruh umat bersorak sorai dengan suara nyaring,
memuji-muji Tuhan dengan penuh haru dan kegembiraan yang besar.
Persembahan yang berupa kurban tidak lagi terjadi di dalam gereja
kini. Maka di dalam gereja tidak ada lagi mezbah kurban karena
dosa. Meski demikian, kita telah menjadi bait Allah yang hidup
karena Tuhan kita, Yesus Kristus telah mempersembahkan hidup-Nya
sebagai kurban penebusan yang tuntas ganti diri kita. Mezbah
kurban syukur masa kini adalah respons syukur dan terima kasih
kita kepada Dia, yang telah mengurbankan diri-Nya bagi kita.
Respons syukur itu kita nyatakan dalam segenap hidup kita, yaitu
dalam keseharian kita.
Kiranya perenungan hari ini mengingatkan kita agar bersedia menjadi
mezbah bagi Tuhan. Artinya, dengan tulus dan sukarela
mempersembahkan tubuh dan hidup kita bagi kemuliaan Tuhan.
Ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah memulihkan kita dalam hubungan
damai dengan Tuhan. Sudah selayaknya bila kita mensyukuri karya
Allah yang besar itu. Bersorak sorai, bahkan dengan mencucurkan
air mata, memuji-muji Tuhan. "Sebab Ia baik, bahwa untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya!"
|