|
Judul: Kemuliaan Tuhan
Bayangkan betapa terpukau dan terbata-batanya Yehezkiel melihat
kemuliaan Tuhan. Penyair terbaik sekalipun takkan dapat
mengungkapkannya dengan kata-kata. Pelukis sekaliber Picasso juga
takkan mampu menuangkannya di atas kanvas. Pemahat patung
kualitas dunia takkan sanggup memahat sosok mulia Ilahi.
Gambar kemuliaan Tuhan terlalu dahsyat untuk dapat diuraikan. Maka
tidak heran ketika kita membaca upaya Yehezkiel menggambarkannya,
semakin banyak kata digunakan akan semakin bingung
membayangkannya. Coba bayangkan: Empat makhluk dengan
masing-masing empat wajah dan empat sayap yang kalau berjalan
masing-masing lurus ke depan dan yang di tengah-tengah mereka ada
seperti suluh yang bernyala (ayat 5-14). Di samping masing-masing
makhluk ada roda-roda yang memiliki relasi hidup dengan keempat
makhluk tersebut (ayat 15-21). Di atas keempat makhluk itu ada
cakrawala yang menopang takhta mulia. Di sanalah duduk sosok
serupa manusia (band. Dan. 7:13) yang dilukiskan penuh dengan
sinar yang kemilauan (ayat 22-27).
Hanya satu hal yang bisa Yehezkiel perbuat tatkala diperhadapkan
dengan kemuliaan Tuhan yang begitu dahsyat: sujud menyembah dalam
kerendahan (ayat 28). Yang Yehezkiel lihat adalah gambaran Allah
yang transenden (luar biasa). Allah yang jauh melampaui pikiran
manusia, yang tidak bisa digambarkan oleh apapun di muka bumi
ini. Itu sebabnya hukum kedua dari sepuluh perintah Allah tegas
melarang pembuatan benda apapun untuk menggambarkan Allah apalagi
disembah! Sebaliknya, justru sosok serupa manusia yang Yehezkiel
lihat mengingatkan kita akan manusia yang memang satu-satunya
ciptaan Allah yang disebut gambar Allah (Kej. 1:26-27). Manusia
diciptakan untuk menyatakan kemuliaan Allah. Maka pertanyaan
untuk kita adalah apakah hidup kita: perkataan, perbuatan, serta
semua aspek lainnya sudah memuliakan Tuhan? Oleh Yesus Kristus,
Manusia sejati, kita dikuduskan untuk layak memuliakan Allah!
|