|
Judul: Jangan kompromi!
Pemimpin rohani dipanggil oleh Allah untuk menyatakan kebenaran
Allah. Namun mengapa banyak pemimpin rohani yang takut atau ragu
untuk menyatakan kebenaran? Bahkan ada juga yang tawar hati
ketika menghadapi berbagai pergumulan. Bagaimana seharusnya
persiapan seorang pemimpin rohani agar ia mampu dan layak
memimpin?
Ezra adalah seorang pemimpin rohani yang baik. Ia teguh, berani,
serta mampu bertindak tegas dalam menentang ketidakbenaran. Saat
itu Ezra harus menghadapi umat Israel yang tidak setia pada
Tuhan. Mereka menikahi wanita Kanaan yang tidak percaya Tuhan.
Akibatnya umat Allah terbawa ke dalam penyembahan berhala. Meski
berduka atas kenyataan itu, Ezra tidak putus asa. Ini terbukti
melalui tindakannya yang dapat kita teladani. Ia menyerahkan
segala persoalan dan pergumulan kepada Tuhan (ayat 1, 6). Ia
berdoa, mewakili umat-Nya untuk mengakui dosa. Ia menangis dan
sujud di depan Allah, bahkan berpuasa untuk memohon belas kasihan
Allah atas umat-Nya. Sikap Ezra membawa dampak. Sekhanya dari
bani Elam mengakui kesalahan mereka dan mengusulkan pertobatan
dengan cara menceraikan wanita asing (ayat 3), serta berkomitmen
untuk mendukung Ezra (ayat 4). Ezra menuntun umat-Nya sampai pada
pertobatan (ayat 5-11). Ia memerintahkan supaya seluruh imam dan
segenap orang Israel melakukan apa yang berkenan kepada Allah:
memisahkan diri dari perkawinan dengan wanita asing yang
menajiskan dan hidup kudus, menyenangkan hati Tuhan.
Keteguhan hati, keberanian, dan ketegasan seorang pemimpin rohani
dalam menyatakan kehendak Allah adalah sikap yang memuliakan
Allah. Sikap ini dapat memotivasi jemaat untuk mengalami
pembaharuan hidup serta bertumbuh dewasa di dalam Dia. Kita perlu
berdoa untuk para pemimpin rohani. Kiranya Tuhan menguatkan
mereka untuk tegas bersikap meski menghadapi orang-orang yang
kaya dan berkedudukan tinggi. Kita sendiri sebagai jemaat,
hendaknya memiliki tegas dalam bersikap terhadap dosa.
|