|
Judul: Kemuliaan hanya bagi Tuhan
"Beribu lidah patutlah" adalah judul lagu yang ditulis oleh Charles
Wesley pada hari peringatan setahun pertobatannya. Lagu ini
dikenal oleh banyak gereja di Indonesia (KJ no. 294), bahkan di
dunia. Lagu ini menyatakan pujian kepada Tuhan, yang selayaknya
dinaikkan oleh beribu orang.
Meski kerinduan Daud kelihatannya tidak mendapat tanggapan positif
dari Tuhan, Daud tidak bersungut-sungut. Ia setuju dan tunduk
pada jawaban "tidak" dari Tuhan, meski tahu bahwa ia mampu. Walau
usulannya untuk membangun Bait Allah ditolak, hati Daud tetap
melimpah dengan pujian dan syukur karena janji-janji yang Tuhan
nyatakan. Daud memuji Tuhan karena rancangan-Nya untuk memberkati
umat-Nya (ayat 16-22). Rancangan ini telah digenapi pada masa
silam, yakni saat umat Israel keluar dari Mesir. Namun bukan
hanya berhenti sampai di situ. Umat Tuhan pada masa-masa kemudian
juga akan mengalami berkat-berkat Tuhan.
Anugerah Tuhan bagi Daud tidak membuat Daud menjadi sombong. Ia tidak
menganggap bahwa ia layak menerima janji-janji Tuhan tersebut
(ayat 16). Janji-janji itu juga tidak membuat dia merasa diri
lebih mulia. Bagi Daud, pemberian Tuhan justru menggambarkan
kebesaran Pemberi janji, bukan penerimanya. Maka anugerah Tuhan
yang luar biasa membuat Daud semakin memuliakan Allah.
Selanjutnya Daud meminta agar Tuhan menggenapi apa yang telah Dia
janjikan (ayat 23-27).
Menerima dan menyadari kasih karunia Tuhan yang begitu besar,
biasanya mendorong kita untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan.
Apalagi bila kita merasa memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Namun dari bacaan ini kita belajar bahwa keinginan kita belum
tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab itu, yang perlu kita
cari dan utamakan adalah kehendak Tuhan atas segala sesuatu yang
kita akan lakukan bagi Dia. Merasa diri mampu atau adanya
keinginan untuk menunjukkan bahwa diri mampu melakukan sesuatu
yang besar bagi Tuhan, akan menjerumuskan kita pada kesombongan
diri dan bukan mengarah pada kemuliaan Tuhan.
|