|
Judul: Pemimpin yang tahu batas
Sikap apa yang diperlukan oleh seorang pemimpin agar kepemimpinannya
kokoh? Salah satunya adalah kerendahan hati mengenali batas-batas
kepemimpinannya.
Daud bukan hanya ahli dalam pemerintahan dan peperangan. Dia juga
membangun beberapa gedung. Dan salah satu kerinduannya adalah
menyediakan tempat bagi tabut Allah. Keberhasilan Daud, termasuk
upaya berbagai pembangunan fisik, tidak membuat Daud mabuk
kekuasaan dan kehormatan. Daud memang pernah mengalami hal yang
sangat pahit dan tidak menyenangkan dengan kematian Uza (lih.
1Taw. 13:9-13). Walau sempat marah, Daud segera menyadari
kekeliruannya setelah ia berkonsultasi dengan Tuhan. Itu sebabnya
dalam upaya kedua kali memindahkan Tabut Perjanjian, ia
mempersilakan para imam dan orang Lewi, sebagai orang-orang yang
dipercaya Tuhan atas kemah suci dan perabotannya (ayat 2, 15; Bil
3-4), untuk mengatur kegiatan tersebut. Walau Daud paham mengenai
siapa yang berhak untuk berurusan dengan Tabut Perjanjian, itu
tidak mengurangi tekadnya untuk merayakan Tuhan dengan musik,
pujian, dan tarian (ayat 16-28). Bahkan Daud sendiri melepaskan
gengsi seorang raja, dan tanpa malu ia menari-nari memuji Tuhan
(ayat 29).
Sikap Daud adalah sikap yang tulus. Walaupun menimbulkan keberatan
Mikhal, putri Saul yang menjadi istrinya. Daud menunjukkan diri
sebagai pemimpin yang berjiwa besar. Ia mengenali batas-batas
kepemimpinannya dan tidak mau melanggarnya. Tuhan mengangkat dia
untuk menjadi pemimpin secara politik, bukan secara keagamaan.
Urusan keagamaan adalah urusan para imam dan orang Lewi.
Belajar dari teladan Daud, kiranya kita pun menyadari batas otoritas
dan kemampuan kita. Kesadaran itu bisa kita miliki bila kita
mempunyai sikap rendah hati yang ditunjukkan dengan kesediaan
untuk menerima tegoran dan koreksi.
Renungkan: Siapa pun kita masih dapat melakukan kesalahan. Apakah
kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi?
|