|
Judul: Biduan rumah Tuhan
Apa fungsi nyanyian dalam sebuah ibadah? Bukan hanya zaman sekarang,
zaman dulu pun nyanyian sebagai bagian dari ibadah sudah penting
dan diatur dalam liturgi-liturgi yang serasi. Itulah sebab kita
bertemu dengan mazmur-mazmur yang dinyanyikan untuk jenis ibadah
tertentu dengan liturginya masing-masing.
Rupanya penetapan biduan atau orang yang memimpin pujian di rumah
Tuhan mulai digarap dengan serius pada masa Raja Daud (ayat
31-32). Dengan adanya orang-orang yang mengelola lagu-lagu sesuai
dengan jenis ibadahnya, tentu suasana ibadah bisa lebih terarah.
Tokoh-tokoh biduan yang dicatat ternyata adalah tokoh-tokoh yang
gubahan pujiannya tercantum dalam kitab Mazmur. Heman (ayat
33-38) menggubah Mazmur 88. Asaf (ayat 39-42) menggubah Mazmur
50, 73-83. Etan (ayat 44-47) menggubah Mazmur 89.
Perikop kita ini kemudian membicarakan keturunan Harun dan
tugas-tugas mereka (ayat 48-52). Sebagai imam besar, merekalah
yang memiliki kewajiban mewakili umat Allah untuk mempersembahkan
kurban-kurban bakaran dan kurban ukupan serta ritual yang secara
khusus diselenggarakan di ruangan maha kudus bait Allah. Dengan
pembagian tugas yang rinci dan terpadu, segala kegiatan pelayanan
di rumah Tuhan dapat diselenggarakan dengan baik dan khidmat.
Fungsi para biduan mempersiapkan hati umat untuk masuk dalam
suasana ibadah yang khusuk, sehingga hati mereka diarahkan pada
Tuhan. Sedangkan para imam melakukan ritual yang merupakan inti
ibadah. Jenis-jenis kurban yang dipersembahkan mewakili tiga
fungsi ibadah: persekutuan, penyembahan, serta pengampunan dosa.
Tidak ada ibadah kristiani yang tidak diiringi dengan nyanyian pujian
dan penyembahan. Hanya persembahan kurban-kurban tidak lagi
dilakukan karena sudah digenapi oleh persembahan Kristus di
salib. Bagian itu digantikan dengan pemberitaan firman yang
merenungkan kembali segala kebaikan Allah dalam hidup umat.
|