|
Judul: Daud naik takhta
Dalam kitab Tawarikh, Daud dan keturunannya menempati posisi penting
dalam kerajaan Israel/Yehuda. Mereka merupakan gambaran Mesias
yang akan datang. Merekalah yang meneruskan kepemimpinan Israel
pasca-pembuangan. Itu sebabnya, dengan menggunakan dan meringkas
kisah naik takhtanya Daud di 2Sam. 5, penulis Tawarikh mau
menjelaskan bahwa sejak permulaan, Daud adalah raja pilihan Tuhan
sendiri.
Para tua-tua Israel, mereka yang selama ini menemani kepemimpinan
Saul, telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana
Saul sudah gagal dan ditolak Tuhan. Mereka juga melihat bagaimana
keturunan Saul gagal meneruskan takhta ayahnya (ayat 2 Sam.
2:8-4:12). Sebelum itu, mereka sudah melihat bagaimana Daud
pernah memimpin pasukan Saul mengalahkan musuh-musuh Israel (ayat
1 Sam. 18:5). Mereka pasti juga sudah tahu bahwa Samuel telah
mengurapi Daud. Oleh karena itu mereka mengambil kesimpulan bahwa
Daudlah yang paling tepat menggantikan Saul sebagai Raja Israel
(ayat 1-3).
Di sisi lain, Daud menunjukkan diri sebagai pemimpin yang
berkualitas. Dia berhasil menguasai Yerusalem yang terletak di
atas bukit, yang merupakan benteng alami yang ratusan tahun lebih
tidak berhasil ditaklukkan oleh Yehuda (Yos. 15:63; Hak. 1:21).
Dia melakukannya dengan mengomandoi pasukan yang dipimpin oleh
panglima perangnya, Yoab. Ini menunjukkan betapa Daud adalah
seorang pemimpin yang dihormati dan didukung oleh anak buahnya
(1Taw. 11:10). Di balik keberhasilan itu, tentu ada Tuhan yang
menyertai dia. Dia adalah Tuhan semesta alam (harf. Tuhan atas
pasukan). Istilah ini menunjukkan kedaulatan Tuhan memakai
pasukan-Nya untuk menggenapi maksud-Nya.
Kita tidak pernah boleh lupa bahwa kemenangan dan keberhasilan dalam
pelayanan tidak lepas dari dukungan anak-anak Tuhan lainnya yang
satu visi. Lebih dari itu, ada Tuhan yang menyertai dengan kuat
kuasa-Nya.
|