|
Judul: Keterbukaan yang bijak
Bagaimana pemimpin bijak memilih para pengikutnya? Tentu salah satu
kriteria utama adalah pengikut yang memiliki visi yang sama
dengan visi si pemimpin, dan yang setia mendukung pemimpinnya.
Begitulah cara Daud memilih pengikut. Perikop ini memperlihatkan
dirinya sebagai negarawan dan ahli strategi yang ulung.
Sebenarnya, Daud sudah memiliki pengikut sejak ia menjadi pelarian.
(lih. 1 Sam. 22:1-2). Bahkan ketika masih berada di Ziklag,
banyak orang yang tadinya pasukan Saul kemudian menyeberang,
memihak Daud (ayat 1; 1Sam. 30:26-31). Mereka berasal dari suku
Benyamin, suku Saul sendiri, dan juga dari suku Gad. Mereka
adalah pasukan tentara profesional yang handal (ayat 1b-2,
14-15). Kemampuan para pengikut Daud ini tidak perlu diragukan
lagi. Namun kesetiaan mereka masih harus dipertanyakan. Wajar
bagi Daud untuk bersikap waspada bahkan curiga terhadap motivasi
mereka yang dulu pernah melayani Saul. Jangan-jangan mereka
adalah mata-mata Saul untuk menggerogoti Daud dari dalam.
Cara Daud menyikapi mantan pengikut Saul memperlihatkan bahwa dia
adalah pemimpin yang terbuka. Ia terbuka menerima orang-orang
yang mau bergabung dengan dia tanpa memandang golongan atau suku.
Di sisi lain, Daud bertindak bijaksana dengan tidak begitu saja
menerima dan memercayai mereka. Ia meminta komitmen mereka untuk
memastikan kesetiaan mereka mendukung dirinya (ayat 17). Sikap
ini justru menumbuhkan komitmen makin besar dari mereka. Bahkan
mendukung terus sampai Daud naik takhta dan menjalankan
pemerintahannya (ayat 18).
Memang pernah ada gereja yang kecolongan, dimasuki musuh dalam
selimut. Kiranya hal itu tak membuat pemimpin gereja tidak berani
membuka diri. Pemimpin gereja harus memastikan bahwa gereja
terbuka kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan golongan, suku,
atau ras. Namun pemimpin gereja harus meminta hikmat dari Tuhan
agar peka pada orang-orang yang bermotivasi palsu dan bertujuan
jahat.
|