Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Tawarikh 12:1-22
< Agustus
2008
>
M S S R K J S
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Minggu 17 Agustus 2008

Judul: Keterbukaan yang bijak
Bagaimana pemimpin bijak memilih para pengikutnya? Tentu salah satu kriteria utama adalah pengikut yang memiliki visi yang sama dengan visi si pemimpin, dan yang setia mendukung pemimpinnya. Begitulah cara Daud memilih pengikut. Perikop ini memperlihatkan dirinya sebagai negarawan dan ahli strategi yang ulung.

Sebenarnya, Daud sudah memiliki pengikut sejak ia menjadi pelarian. (lih. 1 Sam. 22:1-2). Bahkan ketika masih berada di Ziklag, banyak orang yang tadinya pasukan Saul kemudian menyeberang, memihak Daud (ayat 1; 1Sam. 30:26-31). Mereka berasal dari suku Benyamin, suku Saul sendiri, dan juga dari suku Gad. Mereka adalah pasukan tentara profesional yang handal (ayat 1b-2, 14-15). Kemampuan para pengikut Daud ini tidak perlu diragukan lagi. Namun kesetiaan mereka masih harus dipertanyakan. Wajar bagi Daud untuk bersikap waspada bahkan curiga terhadap motivasi mereka yang dulu pernah melayani Saul. Jangan-jangan mereka adalah mata-mata Saul untuk menggerogoti Daud dari dalam.

Cara Daud menyikapi mantan pengikut Saul memperlihatkan bahwa dia adalah pemimpin yang terbuka. Ia terbuka menerima orang-orang yang mau bergabung dengan dia tanpa memandang golongan atau suku. Di sisi lain, Daud bertindak bijaksana dengan tidak begitu saja menerima dan memercayai mereka. Ia meminta komitmen mereka untuk memastikan kesetiaan mereka mendukung dirinya (ayat 17). Sikap ini justru menumbuhkan komitmen makin besar dari mereka. Bahkan mendukung terus sampai Daud naik takhta dan menjalankan pemerintahannya (ayat 18).

Memang pernah ada gereja yang kecolongan, dimasuki musuh dalam selimut. Kiranya hal itu tak membuat pemimpin gereja tidak berani membuka diri. Pemimpin gereja harus memastikan bahwa gereja terbuka kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan golongan, suku, atau ras. Namun pemimpin gereja harus meminta hikmat dari Tuhan agar peka pada orang-orang yang bermotivasi palsu dan bertujuan jahat.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran