|
Judul: Rencana-Nya tidak pernah gagal
Dalam 1 Samuel, kisah hidup Saul dibandingkan dengan kisah hidup
Daud. Kisah Saul mengungkapkan tragisnya hidup orang yang diberi
anugerah oleh Tuhan, tetapi ketidaktaatannya membuat ia ditolak
Tuhan. Sementara Daud yang dipilih menggantikan Saul, menunjukkan
sikap bersandar pada Tuhan. Ketaatan Daud membawa anugerah yang
lebih besar, yaitu keturunannya akan menjadi pewaris takhta
kerajaan Israel.
Rupanya penulis 1 Tawarikh memakai sumber dari 1Sam. 31 untuk
mengisahkan peristiwa kematian Saul dalam peperangan melawan
Filistin sebagai latar belakang naiknya Daud ke takhta Israel.
Kisah ini penting untuk menunjukkan beberapa hal. Pertama,
kematian Saul merupakan hukuman Tuhan atas dia. Ia telah berdosa
karena menolak untuk taat pada Tuhan (ayat 13-14a). Kedua,
kematian Saul bukan disebabkan oleh tangan Daud. Memang Daud
telah diurapi untuk menjadi raja menggantikan Saul, jauh sebelum
Saul mati. Namun Daud tidak melakukan tindakan apapun untuk
merebut takhta Saul. Daud setia menantikan tibanya waktu Tuhan.
Kisah kematian Saul ditutup dengan kesimpulan tegas bahwa Tuhan
sendiri yang membunuh Saul dan yang menyerakkan jabatan raja
kepada Daud (ayat 14b). Ketiga, kisah kematian Saul dan kekalahan
Israel bisa dilihat sebagai gambaran situasi pembuangan. Dalam
konteks ini, Daud digambarkan (ps. 11) sebagai \'juruselamat\' yang
membawa pulang Israel dari pembuangan. Dengan demikian tujuan
penulis Tawarikh, untuk membangkitkan kembali pengharapan umat
pascapembuangan pada pemerintahan mesianik, tercapai.
Saul gagal, tetapi Tuhan membangkitkan Daud untuk meneruskan misi-Nya
memimpin dan menjadikan umat-Nya sesuai dengan rencana-Nya. Tuhan
berkarya lewat cara-Nya yang ajaib, tak terselami, tetapi tak
pernah keliru. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia bisa memakai dan juga
bisa menolak orang seturut respons mereka kepada Dia. Rencana-Nya
tidak pernah gagal.
|